Showing posts with label Human Factors. Show all posts
Showing posts with label Human Factors. Show all posts

Sunday, January 17, 2021

faktor Manusia dalam K3 - Teori Ramsey 1978

1. Sejarah 

Teori Ramsey dilatarbelakangi oleh masih tingginya kerugian yang ditimbulkan dari faktor manusia dan cost ekonomi dari kecelakaan atau cidera meskipun perusaahaan di Amerika dan beberapa negara lainya telah memperbaiki sistem keselamatannya (safety system). Oleh karena itulah, Ramsey mengajukan suatu model yang digunakan sebagai framework untuk menggambarkan faktor perilaku yang menyebabkan peristiwa kecelakaan.

Teori yang diajukan Ramsey bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja. National Safety Council mendefinisikan kecelakaan sebagai “any unexpected event that interupts or interferes with the orderly progress of the production activity or process”. Artinya, kecelakaan merupakan suatu peristiwa yang tidak terduga yang terjadi saat proses produksi atau saat melakukan suatu aktivitas. Pengertian tersebut menunjukan bahwa suatu kecelakaan dapat menyebabkan loss berupa injury, property damage, dan kematian.


2. Model Teori Ramsey ( 1978)

Teori Ramsey merupakan salah satu dari accident theory yang membahas bagaimana suatu kejadian kecelakaan dapat terjadi. Teori ini memaparkan faktor-faktor yang ada pada diri seseorang sehingga dapat mempengaruhi terbentuknya perilaku bekerja yang selamat atau tidak selamat (safety behavior atau unsafety behavior). Berdasarkan teori ini diketahui bahwa dalam pembentukan perilaku kerja yang aman (safety behavior) terdapat 4 tahapan yang dilalui, yaitu : 
1) Tanggapan terhadap hazard (perception of hazard)
2) Pengetahuan terhadap hazard (cognition of hazard)
3) pengambilan keputusan (decision making)
4) kemampuan menghindar (ability to avoid)

Semua tahapan diatas terjadi secara berurutan dan berkesinambungan sehingga menciptakan safety behavior. Apabila semua tahapan dilakukan dengan baik dan tidak melenceng.keluar dari alur tahapan maka safety behavior dapat dihasilkan dan menghindarkan seseorang dari kecelakaan. 


3. Proses

Tahap pertama dalam proses pembentukan safety behavior adalah tanggapan terhadap suatu bahaya (perception of hazard) yang ada di sekitar. Kemampuan seseorang dalam menanggapi bahaya yang ditemui bergantung pada kecakapan sensoris (sensory skill), kemampuan perseptual (perceptual skill), dan kesiagaan mentalnya (state of allertness). Jika ada satu kecakapan yang ia lalaikan, peluang terjadinya perilaku tidak aman yang berujung pada kecelakaan akan lebih besar. Artinya, ia tidak akan menampilkan safety behavior.

Tahap kedua adalah pengetahuan terhadap hazard (cognition of hazard), yaitu seberapa besar pengetahuan seseorang tentang suatu bahaya yang ada. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1) pengalaman (experience)
2) pelatihan (training)
3) kemampuan mental (mental ability)
4) daya ingat (memory ability).

Dari pengalaman yang dimiliki, sseseorang menjadi bertambah pengetahuannya terhadap suatu hazard sehingga diharapkan ia dapat mencegah terjadinya kecelakaan. Selain pengalaman, pelatihan juga dapat memperkaya pengetahun seseorang terhadap hazard melalui materi yang diajarkan. Kemampuan mental dan daya ingat juga berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang terhadap hazard. Jika ia memiliki daya ingat yang buruk dikhawatirkan dapat menimbulkan kecelakaan karena ia menjadi tidak tanggap lagi terhadap suatu bahaya. Apabila seseorang telah mengamati bahaya yang ada dan ia tidak mempunyai pengetahuan tentang bahaya itu atau tidak berpengalaman untuk menanggulangi bahaya tersebut maka safety behavior juga tidak akan muncul. Pada tahapan yang selanjutnya, tahap ketiga, diperlukannya pengambilan keputusan (decision making ). 

Decision making yang tepat untuk menghindari bahaya di tempat kerja akan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
1) pengalaman (experience)
2) pelatihan (training)
3) sikap (attitude)
4) motivasi (motivation)
5) kepribadian (personality)
6) kecendrungan menghadapi resiko (risk-taking tendency). 

Safety behavior juga tidak akan muncul apabila seseorang tidak dapat mengambil keputusan untuk menghindari bahaya dengan tepat walaupun sebelumnya telah melakukan pengamatan dan mengetahui suatu bahaya yang ada. Setelah berhasil mengambil keputusan untuk menghindari suatu bahaya, tahapan selanjutnya adalah memiliki kemampuan (ability) untuk menghindari bahaya tersebut. Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dalam pembentukan safety behavior. Sama dengan tahap-tahap sebelumnya, apabila seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menghindari bahaya walaupun tidak terjadi kesalahan dalam tahap sebelumnya maka safety behavior tetap tidak akan terbentuk. 

Kemampuan seseorang untuk menghindari suatu bahaya (ability to avoid) akan dipengaruhi oleh :
1) Ciri-ciri fisik dan kemampuan fisik (physical characteristics and abilities)
2) Kemampuan psikomotorik (psychomotor skill)
3) Proses-proses fisiologis (physiological process)

Pada akhirnya, perilaku aman akan terbentuk dan menhindarkan seseorang dari celaka. Namun, diluar 4 tahapan besar diatas, menurut model ini, ada suatu faktor yaitu faktor kesempatan (chance) yang dapat tetap menimbulkan kecelakaan meskipun seseorang telah memiliki safety behavior, dan juga sebaliknya kecelakaan tidak jadi terjadi meskipun seseorang berperilaku tidak aman (unsafe behavior).


Gambar Model Teori Ramsey


Semoga Bermanfaat,

Salam, 


Sunday, April 1, 2018

Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Frank Bird and Loftus Model

Setelah sebelumnya kita telah membahas tentang kecelakaan kerja dan tujuan investigasi kecelakaan kerja, maka disini akan dibahas model pertama yang dapat digunakan untuk membantu pelaksanakan investigasi kecelakaan kerja, yaitu Frank Bird and Loftus Model.

Pada dasarnya ada beberapa teori domino yang dapat digunakan dalam investigasi kecelakaan. Akan tetapi terdapat kesamaan dalam teori tersebut. Semua domino teori dibagi menjadi tiga fase: 
  1. Precontact phase : mengacu pada peristiwa-peristiwa atau kondisi yang mengarah ke kecelakaan 
  2. Contact phase : mengacu pada tahap di mana individu, mesin, atau fasilitas mengalami kontak dengan energy atau kekuatan yang melebihi kemampuan fisik. 
  3. Postcontact phase : mengacu pada hasil dari kecelakaan atau paparan energy, seperti cidera fisik, penyakit, downtime produksi, kerusakan peralatan dan / atau fasilitas dan hilangnya reputasi. 
Teori domino menggambarkan kecelakaan sebagai rangkaian peristiwa atau faktor penyebab yang dapat diprediksi. Setiap faktor penyebab akan mempengaruhi penyebab lain dan menyebabkan terjadinya kecelakaan. Dalam permainan domino, ketika potongan domino berbaris dan domino pertama terjatuh, maka akan menjadi rantai peristiwa yang menyababkan jatuhnya domino yang tersisa. Dengan cara yang sama, Dengan cara yang sama, kecelakaan, menurut teori domino akan terjadi kecelakaan jika urutan penyebab fase pra kontak tidak terganggu.[1]

Heinrich mengemukakan teori ini di tahun 1931. Menurut Heinrich, 88% kecelakaan terjadi karena unsafe act, 10% karena unsafe condition dan 2% karena act of God. Heinrich juga menekankan bahwasannya kecelakaan terjadi karena kesalahan manusia lebih jauh lagi karena karakteristik manusia yang terpengaruh oleh lingkungan (ancestry, environment).


Teori Domino Heinrich

Source: https://pelatihank3site.files.wordpress.com/2017/01/pelatihan-k3-teori-domino.jpg?w=394&h=264


Konsep dasar pada model ini adalah:
  1. Accident adalah sebagai suatu hasil dari serangkaian kejadian yang berurutan. Accident tidak terjadi dengan sendirinya.
  2. Penyebab-penyebabnya adalah faktor manusia dan faktor fisik.
  3. Accident tergantung kepada lingkungan fisik kerja, dan lingkungan sosial kerja.
  4. Accident terjadi karena kesalahan manusia.

Beberapa decade setelahnya, Frank E. Bird dan Robert G. Loftus mengembangkan teori domino. Teori yang dikemukakan Frank E. Bird dan Robert G. Loftus pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari yang ditemukan H.W. Heinrich. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus menggambarkan cara berfikir modern terjadinya kecelakaan/banyak dipergunakan sebagai landasan berfikir untuk pencegahan terjadinya kecelakaan. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus sebagai pakar ilmu keselamatan mengemukakan teori penyebab kecelakaan berdasarkan berdasarkan urutan sebagai berikut :

1. Manajemen. Kurangnya pengawasan terutama dalam fungsi managerial, seperti :
  • Perencanaan
  • Organisasi
  • Pimpinan
  • Pengawasan/Controlling

2. Sebab-sebab utama
  • Human factor (Faktor manusia)
    · Pengetahuan kurang
    · Motivasi kurang
    · Keterampilan kurang
    · Problem/stress fisik atau mental
    · Kemampuan yang tidak cukup secara fisik dan mental
  • Job factor (Faktor pekerjaan):
    · Standar mutu pekerjaan yang tidak memadai
    · Desaign dan maintenance yang tidak baik
    · Pemakaian yang tidak normal dan lain-lain

3. Penyebab langsung. 
   
Pada kartu domino bila dasarnya penyebab langsung dengan gejala ini, maka kartu domino akan jatuh terjadi efek kecelakaan. Yang tergolong dalam penyebab langsung adalah:
  • Tindakan yang tidak aman
  • Keadaan kerja yang tidak aman

4. Incident (peristiwa)

Terjadinya kontak dengan sumber energi (energi kinetik, elektrik, akustik, panas, radiasi, kimia dan lain-lain) yang melebihi nilai ambang batas kemampuan badan atau struktur. Misalnya beban berlebih, kontak sumber energi berbahaya.


5. Loss (kerugian)

Kerugian ini dapat berupa kehilangan nyawa manusia (fatality), kesakitan (injury), harta benda, proses produksi dan image perusahaan. Biaya yang ditanggung dari kejadian kecelakaan seperti fenomena gunung es.

Bird and Loftus Domino Theory


Pada dasarnya kunci dari model kecelakaan masih sama, yaitu adanya unsafe act dan unsafe condition. Akan tetapi, mereka mulai melihat penyebab kecelakaan dari manajemen, yaitu perencanaan, organisasi, pimpinan, pengawasan/controlling serta sejauh mana manajemen mampu mencegah terjadinya kecelakaan.

Untuk Contoh studi kasus kecelakaan kerja dan cara investigasi kecelakaan menggunakan model dan teori Bird and Loftus ini dapat di klik disini.

Sedangkan untuk investigasi menggunakan dasar teori/model dari Surry Models dan Energy Damage Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan di share di sosial media Anda, dan tinggalkan komentar apabila ada yang ingin ditanyakan.


Salam,





Referensi:

[1]Mark A. Friend and James P. Kohn, Fundamental of Occupational Health and Safety, Government Institutes, 2010, page 85.

Wednesday, March 28, 2018

Epidemiology of Accident Theory dalam K3





Teori epidemiologi injury dikembangkan oleh John E. Gordon dan James J. Gibson. Ia menjelaskan kecelakaan dapat terjadi akibat kegagalan interaksi antara agen, host dan environtment. Host disini merupakan manusia yang memiliki karakteristik sendiri-sendiri seperti umur, keahlian, attitude, cognitive & perspective, kondisi fisik, dan sebagainya. Sedangkan agen adalah segala sesuatu berupa benda yang berada diluar tubuh manusia yang dapat berisiko menimbulkan kecelakaan, seperti pisau yang tajam yang berkemungkinan menyebabkan luka sayat. Dan Environtment merupakan kondisi lingkungan sekitar tempat kerja.

Teori epidemiologi injury ini dalam aplikasinya kemudian dikembangkan lagi oleh Dr William Haddon Jr. ia mengajukan framework untuk menggambarkan penyebab kecelakaan dan tindakan penanggulangan terkait keselamatan di jalan raya. Framework ini biasa dikenal dengan Haddon Matriks. Sehingga, matriks inilah yang digunakan untuk menilai suatu injury yang terjadi dan mengidentifikai metode pecegahan yang digunakan.



Semoga Bermanfaat,

Salam,

SHELL Model dalam K3

Jika teori- teori sebelumnya lebih menjelaskan mengenai kesalahan sistem sistem secara makro menjadi penyebab suatu kecelakaan, Dalam SHELL model ini menjelaskan mengenai individu sejatinya akan bertindak selamat karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Menurut model ini, penyebab kecelakaan disebabkan oleh beberapa faktor. Karena karakteristik yang berbeda-beda tersebut maka manusia harus dapat beradaptasi dan mencocokan dengan beberapa faktor yang berkaitan dengan pekerjaannya agar tidak terjadi kecelakaan sehingga tidak hanya manusia saja yang menjadi penyebab utama kecelakaan.
Faktor-faktor tersebut anatara lain:
  • Software ( prosedur)
  • Hardware (mesin atau alat yang digunakan)
  • Environment (lingkungan)
  • Lifeware 1(manusia)
  • Lifeware 2 (manusia)


Source: https://image.slidesharecdn.com/part3


Jadi, menurut teori ini kelima faktor tersebut harus saling melengkapi satu sama lain (match) agar tidak terjadi kecelakaan dan yang menjadi pusatnya yaitu manusia dimana terdapat adanya interaksi antara lifeware 1 dengan lifeware 2 (interaksi antara manusia dengan manusia) , lifeware1 dengan software (interaksi manusia dengan prosedur atau SOP), lifeware 1dengan hardware (interaksi manusia dengan mesin yang digunakannya), dan lifeware 1 dengan environment (interaksi manusia dengan lingkungan kerjanya). Setelah terjadi kecocokan diantara setiap faktor-faktor tersebut maka kemungkinan terjadinya kecelakaan akan lebih sedikit.


Source: https://image.slidesharecdn.com/part3

Semoga Bermanfaat,

Salam,
Anak KaTiga

Swiss Cheese Model - Teori Human Factors Keselamatan Kerja

Swiss Cheese Model ini dikembangkan oleh James Reason pertama kali pada tahun 1990. Model ini menjelaskan tentang kegagalan sistem, bahwa terjadinya kecelakaan tidak serta merta merupakan kesalahan personal namun ada faaktr lain dalam sistem. Secara gambaran umum tujuan dari model ini hampir sama dengan yang dijelaskan oleh Frank E. Bird dalam domino teorinya. Konsep dasar model ini menjelaskan bahwa kecelakaan organisasi disebabkan oleh pengambilan keputusan yang salah yang dibuat oleh Top Manajemen. Adanya kebijakan yang salah ini, kemudian ditambah dengan kekurangan line management, unsafe act yang kemudian berinteraksi dengan local event dan adanya pertahanan yang memadai, maka terjadilah kecelakaan. Dalam perkembangannya model pertahanan dengan adanya lubang lubang yang menggambarkan laten failure yang berasal dari management ini lah menjadi peluang terjadinya kecelakaan dengan adanya psycological precusor, unsafe act maupun aspek pencetus terjadinya kondisi yang tidak biasa. Kemudia perkembangan selanjutnya disadari bahwa dalam setiap proses / faktor dalam organisasi berpeluang menciptakan latent pathogens, suatu kondisi yang pada saat tertentu dapat berkontribusi dalam terjadinya suatu accident. Latent failure dapat mempengaruhi aspek lain dalam suatu organisasi, sehingga tercipta latent failure yang lain, tetapi dapat pula secara langsung mempengaruhi defence secara langsung sehingga timbul suatu accident.

Contoh kasus yang dilihat berdasarkan teori ini adalah seperti gambar ilustrasi berikut:


Source: http://images.slideplayer.com/27/9078244/slides/slide_49.jpg 

Pada perkembangan terakhir reason menggambarkan defence/ barrier seperti layaknya multiple swiss cheese. Defences ini tidak ada yang sempurna kesemuanya memiliki limitasi, kesemuanya memiliki peluang berupa active failure maupun latent condition yang tercermin sebagai holes. Seperti halnya swiss cheese, holes tersebut terkadang terbuka, terkadang melebar, terkadang menyempit bahkan terkadang berpindah dari tempat kedudukannya. Loss/ accident terjadi bila kesemua defences/ barrier memiliki besarnya holes yang mengakibatkan accident. Perubahan dari model sebelumnya :

  • Masing-masing defences/ barrier tidak spesifik, tergantung masing-masing proses, tidak dibatasi apakah berasal dari mangement, unsafe act dsb seperti pada model sebelumnya.
  • Penggunaan kata latent condition, bukan latent failure, karena kondisi bukanlah sebab terjadinya suatu kecelakaan, tetapi kondisi merupakan faktor penting bagi penyebab untuk terjadinya kecelakaan

Semoga Bermanfaat,

Salam,


Teori Domino Heinrich dan Frank E Bird

Untuk memahami bagimana dan apa alasan seseorang mau atau tidak mau berperilaku selamat dalam bekerja, ada beberapa pendekatan teori atau model yang dapat menjelaskannya. Terdapat beberpa pandangan ahli mengenai sebab-sebab individu berperilaku selamat :


A) Teori Domino Heinrich

Teori ini menyatakan bahwa kecelakaan diakibatkan oleh rantai peristiwa berurutan seperti domino jatuh dan ketika salah satu domino jatuh, memicu kecelakaan yang berikutnya. Lima faktor kecelakaan berurutan yang menyebabkan cedera:
  • Social Environment and Ancestry
  • Fault of Person
  • Unsafe Act and/or Unsafe Condition
  • Accident
  • Injury



Source: http://docplayer.net/docs-images/27/11836037/images/27-0.png


Dalam teri domino ini pencegahan kecelakaan berfokus pada penghilangkan faktor utama (the central factor), yaitu tindakan tidak aman atau bahaya, yang mendasari 98% dari semua kecelakaan. Heinrich beranggapan bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan menghilang kedua faktor, yaitu meniadakan unsafe act dan unsafe condition. Atau dengan kata lain dengan cara mengendalikan situasinya (thing problem) dan masalah manusianya (people problem). Sayangnya teori ini terlalu melimpahkan kesalahan pada manusia dan kecelakaan bisa terjadi hanya karena ada kesalahan manusia. Namun dibalik kekeurangan Heinrich dalam teorinya, Heinrich melihat adanya sejumlah faktor yang memunculkan efek domino kondisi yang menyebabkan kegiatan pekerjaan menjadi tidak aman. Teori Domino Heinrich ini juga menjadi teori ilmiah pertama yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja karena kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan.



B) Teori Domino Frank E. Bird

Teori yang dipaparkan oleh Frank E. Bird lahir akibat dari modifikasi teori Heinrich, secara umum pendekatan teoi ini hampir sama dengan teori domino sebelumnya, Fokus utama teori ini dikemukakan bahwa kecelakaan terjadi karena adanya kesalahan pada manajemen sistem. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus mengembangkan model tersebut sebagai berikut: 
  • Lack of Control dan Management, yaitu kelemahan fungsi-fungsi management Leadership, pengawasan, standard kerja, standard performance, correction error.
  • Basic Concepts dan Origins, yaitu pengetahuan dari pekerja, skill, motivation, physical or capability work problems. 
  • Immediate Causes dan Sympton, yaitu unsafe acts dan unsafe condition
  • Accident dan Contact, yaitu kecelakaan yang terjadi. 
  • Injury Damage dan Loss, yaitu cidera/kecelakaan dan kehilangan property.

Source: http://handikamaulana.blogspot.co.id/2015/05/teori-kecelakaan-kerja.html


Teori Domino Frank E. Bird sudah lebih kompleks menjelaskan bahwa perilaku manusia ini sebagai subsistem kerja. Kecelakaan terjadi karena ada  ‘sesuatu’ yang salah pada sistem (lack of control). Frank E.Bird dalam teorinya juga tidak serta merta menyalahkan manusia sebagai faktor utama dalam suatu kejadian kecelakaan karena menurut beliau pada dasarny tidak ada seorang pekerja atau manusia yang menginginkan adaanya kecelakaan, dalam hal ini beliau sangat memperhatikan sunsistem lain. Teori ini melihat penyebab kecelakaan ini secara makro, sehingga dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi akar masalah itu secara sistemik sehingga dapat menghasilkan peningkatan secar berkelanjutan.



Semoga Bermanfaat,

Salam,
Anak KaTiga



Teori Human Factors dalam Keselamatan Kerja




Source: http://www.safetyshoe.com/file/2016/07/faktor-manusia-300x188.jpg


Keselamatan kerja adalah suatu pendekatan ilmiah dan rangkaian program yang menggunakan ilmu terapan atau aplikatif yang bertujuan untuk menciptakan sistem kerja yang selamat serta keselamatan bagi individu atau dengan kata lain kesalamatan kerja itu merupakan suatu conceptual frame work yang digunakan untuk mencari solusi dalam menghadapi masalah yang timbul dalam pekerjaan terkait dengan manusia. Dengan pendekatan K3 diharapkan kerugian (loss) yang berasal dari hubungan atau kontak antara bahaya dengan manusia. Kontak antara bahaya dengan manusia ini dapat terjadi akibat ketidaksesuaian antara manusia dengan peralatan yang dipakai, dapat juga terjadi karena ketidak sesuaian antara manusia dengan lingkungannya atau bahkan antara mansia dengan manusia itu sendiri. Ketiga hal tersebut mempunyai keterikata satu sama lain. Untuk mencegah risiko akibat ketidaksesuaian hubungan antara ketiga kompone tersbut dibutuhkan pengendalian.

Pengendaliannya tentu saja membutuhkan sistem manajemen yang terdiri dari engineering pada peralatan, administration berupa prosedur serta pengembangan kompetensi serta behavior yang merupakap sikap atau prilaku dari manusia itu sendiri. Dari ketiga komponen tesebut, manusia dalam hal ini merupakan faktor kunci yang secara langsung berhubungan dengan kedua faktor lain yaitu perlatan dan lingkungan, hal ini dikarenakan manusia merupakan satu-satunya unsur yang paling flexibel oleh karena itu dengan adanya interaksi antara manusia dan dua komponen lainnya akan menimbulkan terjadinya perubahan-perubahan budaya kerja. Oleh karena hal tersebut juga manusia secara tidak langsung selalu rentan dikatakan sebagai sumber dari kecelakaan kerja, pdahal sebenarnya manusia tidak serta merta menjadi penyebab dari kecelakaan tersebut.

Seberapa besar pengaruh manusia dalam kontribusinya sebagai salah satu penyebab kecelakaan dijelaskan dalam sebuah teori yang disebut dengan The Human Factor Theory. Teori ini menjelaskan bahwa kecelakaan sebagai suatu rantai kejadian yang disebabkan oleh human error (keslahan manusia). Kesalahan manusia ini dapat terjadi karena overload, inappropiate responses dan inappropiate activities. Jika dilihat dari faktor yang mempengaruhi manusia dapat melakuakan sebuah kesalahan, kita mendapatkan suatu benang merah yaitu prilaku dari manusia itu sendiri menjadi dasar mereka dalam melakukan tindakan.

Prilaku manusia juga mempengruhi perubahan-perubahan yang dilakukan untuk menjadikan manusia itu menjadi lebih baik. Berikut akan dijelaskan beberapa teori dan model yang berhubungan dengan perilaku selamat (safety behavior) tujuannya adalah untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi manusia dalam melakukan pekerjaan sehingga dapat menghindarkan manusia itu sendiri dari kesalahan atau kecelakaan yang berakibat pada fatality.

Macam-macam teori human factors tersebut adalah (penjelasannya dapat Anda klik pada masing-masing teori ini):

  1. Teori Domino Heinrich dan Teori Domino Frank E. Bird
  2. Swiss Cheese Model 
  3. Shell Model
  4. Epidemiology of Accident Teori


Dari keempat teori  diatas, maka tiga diantaranya lebih melihat kecelakaan terjadi akibat adanya interaksi dalam suatu system yang gagal. Dan yang melihat kecelakaan yang berasal dari indvidu hanya satu teori, yaitu teori domino. Penyebab terjadinya kecelakaan atau sakit yang utama adalah bukan hanya kesalahan individu, tetapi banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku selamat dan perilaku sehat manusia tersebut.

Dari waktu kewaktu ditemukan teori dan model yang terus berkembang. Dapat dilihat dari teori yang awalnya menempatkan manusia sebagai pemberi kontribusi terbesar pada kecelakaan sampai dengan paradigma sekarang bahwa kecelakan juga merupakan permasalahan organisasi, bukan individu saja. Lebih baik membuat pertahanan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dari pada mencari penyebab kecelakaan.

Perubahan-perubahan pendapat pada teori dan model tersebut menunjukkan bahwa terjadi juga perubahan cara berpikir dalam melihat suatu permasalahan kecelakaan dan sakit yang tadinya dilihat secara linier dengan mencari penyebab (single causes) saja, tetapi kemudian permasalahan tersebut dilihat juga secara sistemik (manusia, organisasi, dan teknologi). Teori dan model bukan tools dalam melakukan suatu investigasi kecelakaan, tetapi merupakan acuan dalam membuat tools.




Semoga Bermanfaat,

Salam,

Rekomendasi Artikel Lain Untuk Anda: