Showing posts with label Investigasi Kecelakaan. Show all posts
Showing posts with label Investigasi Kecelakaan. Show all posts

Sunday, April 1, 2018

Contoh Studi Kasus dan Aplikasi Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Energy Damage Model



Setelah sebelumnya kita sudah membahas mengenai Energy Damage Model yang dikemukakan oleh Viner, maka selanjutnya kita akan melihat bagimana aplikasi penggunaannya beserta contoh studi kasusnya.


Aplikasi Energy Damage Model


Energi listrik dapat digunakan untuk mengoperasikan dan menggerakkan komponen mekanik mesin. Selain bahaya tertentu yang terkait dengan listrik, energi listrik dapat diubah menjadi berbagai jenis energi, masing-masing mewakili berbagai jenis bahaya. Biasanya, bahaya yang paling mudah diidentifikasi adalah mereka yang berhubungan dengan energi kinetik dari komponen bergerak. Berbagai variasi bentuk dan ukuran operasi mesin komponen dalam gerakan linear atau rotasi memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan kepada orang-orang. Secara umum, rekognisi jenis bahaya yang sederhana, seperti gerakan komponen sering terlihat. Selain itu, seseorang mungkin akan mengalami kecelakaan oleh komponen mesin stasioner, misalnya tepi yang tajam dari mesin dapat menyebabkan lecet jika kontak dibuat oleh orang yang bergerak (melalui energi kinetik mereka sendiri).


Energi listrik dapat diubah menjadi bentuk energi lain selain energi kinetik. Contohnya antara lain, dapat diubah menjadi energi potensial, seperti tekanan yang disimpan gas atau cairan yang tersimpan dalam pneumatik dan sistem hidrolik, atau dengan energi yang tersimpan dalam komponen mesin atau energi potensial gravitasi, seperti ram yang ditahan atas dies dalam mesin press.


Rekognisi bahaya yang berhubungan dengan energi potensial tersebut lebih sulit karena bahaya mungkin tidak mudah terlihat. Dalam kebanyakan kasus, butuh keahlian tehnikal yang tinggi dan pemahaman yang lebih besar dari desain mesin spesifik untuk mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan energi yang tersimpan.



Studi Kasus


PT. X adalah cabang dari perusahaan multinasional yang memproduksi sepatu basket, sepatu bola, sepatu multifungsi dan sepatu anak-anak. Pemakaian mesin alat kerja dan mekanisme dalam industri dapat menimbulkan kebisingan di tempat kerja.




Source: https://www.kerjausaha.com/2015/04/ini-ancaman-dan-tantangan-bisnis-sepatu.html


Intensitas bising lingkungan tempat kerja diatas 85 dB dtemukan di bagian sewing, assembling, pendengaran akibat bising pada tenaga kerja yang terpajan bising diatas 85 dB sebesar 11,7%.


1. Penyebab Kecelakaan Berdasarkan Energy Damage Model (Viner, 1991)


Sesuai dengan konsep the damaging energy, bahwa kecelakaan bermula dari sumber energi yang mengenai penerima melebihi ambang batas kemampuan penerima. Dalam hal ini bising yang termasuk sebagai energi akustik. Tanpa disadari ternyata ada beberapa mesin yang memiliki intensitas kebisingan diatas 85dB yang menyebabkan gangguang pendengaran pada pekerja.


2. Upaya Pencegahan Berdasarkan Energy Damage Model (Viner, 1991)


Sebagai pencegahan, upaya atau pendekatan yang dapat digunakan sesuai dengan konsep energi adalah dengan melakukan pencegahan pada tiga titik sumber terjadinya kecelakaan, yaitu:

  • Sumber bahaya
    Yang menjadi sumber bahaya adalah mesin. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan mengganti mesin dengan yang lebih rendah tingkat kebisingannya atau menggunakan peredam suara pada mesin.
  • Sepanjang aliran energi
    Pengendaliannya dapat dilakukan dengan jalan memindahkan area kerja, memasang dinding kedap suara atau mengatur jarak antara mesin dengan pekerja.
  • Pendekatan pada penerima
    Dilakukan dengan menggunakan APD pada pekerja.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media dan tinggalkan komentar Anda jika ada yang ingin ditanyakan.


Salam,
Anak KaTiga

Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Energy Damage Model



Energy Damage Model diperkenalkan oleh Derek Viner (1991) yang merupakan pendekatan yang fokus pada kegiatan identifikasi berbagai jenis potensi bahaya dalam bentuk sumber energi di tempat kerja yang kemudian mengontrol bahaya-bahaya tersebut dengan cara merancang berbagai metode yang dapat menghilangkan atau meminimalisirnya agar tidak mendatangkan masalah bagi si pekerja ataupun tempat kerja.


Di saat identifikasi belum dilakukan, potensi bahaya yang terdapat pada sumber energi tentunya belum dapat dipastikan dengan tepat. Sehingga besar kemungkinan muncul masalah dengan datangnya pasokan sumber energi dengan jumlah tak terduga yang bisa saja memiliki potensi bahaya dan tidak disadari sebelumnya. Dalam teori ini, bahaya adalah energi walaupun dalam keadaan diam.

Didasarkan pada anggapan bahwa kerusakan adalah akibat dari energi yang intensitasnya pada titik kontak dengan penerima melebihi batas ambang kerusakan yang dapat diterima (Viner dalam HaSPA, 2012). Kecelakaan yang terjadi merupakan akibat dari benturan dua energi dimana salah satu dari energi yang mengalami proses benturan tersebut kalah.





Dalam Energy Damage Model, bahaya merupakan sumber energi yang berpotensi merusak dan kecelakaan, cedera atau kerusakan sebagai hasil dari kurangnya pengendalian terhadap energi tersebut, hal ini disebut dengan hazard control mechanism. Mekanisme yang dimaksud anatara lain kontaimen (penahan), baik fisik maupun struktural, barrier, proses, dan prosedur. Space transfer mechanism merupakan sepanjang aliran energy yang terdapat diantara sumber energy dengan receiver (penerima). Permukaan terluar yang terkena dan rentan terhadap energi disebut recipient’s boundry. Jenis energi yang dapat menjadi bahaya tersebut antara lain energi akustik (bising), energi kimia yang berhubungan dengan bahan kimia yang digunakan untuk mengoperasikan dan memelihara mesin serta gas buangan (emisi), energi panas dari bahan bakar atau gesekan dan energi manusia yang dibutuhkan untuk postur, pergerakan dan pengoperasian.


Upaya Pencegahan Kecelakaan

Sebagian besar upaya pencegahan yang dilakukan pada Energy Damage Model sama dengan model dari Heinrich yang mana berfokus pada penghapusan (eliminasi) atau pengurangan (minimisasi) pada sumber bahaya untuk mengontrol terjadinya kerusakan. Dengan kata lain model yang digagas oleh Viner ini menempatkan fokus perhatian pada tahap pengendalian sebelum kejadian (pre-event) dengan mencegah penggunaan, mengurangi, memodifikasi atau dengan memisahkan sumber bahaya dari pekerja ataupun properti. Untuk itu solusi rekayasa harus dirancang untuk menutupi kekurangan yang terdapat pada kemampuan kognitif pekerja yang lemah.


Sebenarnya upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan sederhana yaitu dengan menghilangkan faktor penyebab terjadinya kecelakaan. Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak semudah seperti yang dibayangkan. Karena ini berkaitan dengan perubahan budaya dan perilaku. Banyak faktor yang menghambat, seperti kurangnya pengetahuan dan kesadaran pekerja, kurangnya sarana dan prasarana, belum adanya budaya tentang K3, komitmen dari pihak manajemen yang kurang dan lain-lain.

Oleh karena itulah banyak berkembang pendekatan-pendekatan yang membahas tentang pencegahan kecelakaan. Dalam Energy Damage Model, pencegahan kecelakaan dilakukan dengan berdasar pada pendekatan energi. Sesuai dengan konsep energi, bahwa kecelakaan bermula dari sumber energi. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan kecelakaan dapat dilakukan pada tiga titik sumber terjadinya kecelakaan, yaitu pada sumbernya, sepanjang aliran energi dan pada penerima.
  1. Pendekatan pada sumber bahaya
    Salah satu contoh pengendalian pada sumber bahaya misalnya memakai peredam suara pada mesin, mengganti mesin dengan mesin yang lebih rendah tingkat kebisingannya.
       
  2. Pendekatan di sepanjang aliran energi.
    Pendekatan berikutnya adalah di sepanjang aliran energi. Misalnya untuk mengurangi kebisingan dengan jalan memasang dinding kedap suara atau memindahkan area kerja.
       
  3. Pendekatan pada penerima.
    Pendekatan pada penerima misalnya, untuk mengurangi kebisingan dengan menggunakan alat penutup telinga.

Untuk Aplikasi model ini dan contoh studi kasusnya dapat di klik disini.

Sedangkan untuk mengetahui teori/model lain yang digunakan dalam investigasi kecelakaan seperti Sury's model dan Bird and Loftus Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media dan tinggalkan komentar Anda jika ada yang ingin ditanyakan.


Salam,

Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Frank Bird and Loftus Model

Setelah sebelumnya kita telah membahas tentang kecelakaan kerja dan tujuan investigasi kecelakaan kerja, maka disini akan dibahas model pertama yang dapat digunakan untuk membantu pelaksanakan investigasi kecelakaan kerja, yaitu Frank Bird and Loftus Model.

Pada dasarnya ada beberapa teori domino yang dapat digunakan dalam investigasi kecelakaan. Akan tetapi terdapat kesamaan dalam teori tersebut. Semua domino teori dibagi menjadi tiga fase: 
  1. Precontact phase : mengacu pada peristiwa-peristiwa atau kondisi yang mengarah ke kecelakaan 
  2. Contact phase : mengacu pada tahap di mana individu, mesin, atau fasilitas mengalami kontak dengan energy atau kekuatan yang melebihi kemampuan fisik. 
  3. Postcontact phase : mengacu pada hasil dari kecelakaan atau paparan energy, seperti cidera fisik, penyakit, downtime produksi, kerusakan peralatan dan / atau fasilitas dan hilangnya reputasi. 
Teori domino menggambarkan kecelakaan sebagai rangkaian peristiwa atau faktor penyebab yang dapat diprediksi. Setiap faktor penyebab akan mempengaruhi penyebab lain dan menyebabkan terjadinya kecelakaan. Dalam permainan domino, ketika potongan domino berbaris dan domino pertama terjatuh, maka akan menjadi rantai peristiwa yang menyababkan jatuhnya domino yang tersisa. Dengan cara yang sama, Dengan cara yang sama, kecelakaan, menurut teori domino akan terjadi kecelakaan jika urutan penyebab fase pra kontak tidak terganggu.[1]

Heinrich mengemukakan teori ini di tahun 1931. Menurut Heinrich, 88% kecelakaan terjadi karena unsafe act, 10% karena unsafe condition dan 2% karena act of God. Heinrich juga menekankan bahwasannya kecelakaan terjadi karena kesalahan manusia lebih jauh lagi karena karakteristik manusia yang terpengaruh oleh lingkungan (ancestry, environment).


Teori Domino Heinrich

Source: https://pelatihank3site.files.wordpress.com/2017/01/pelatihan-k3-teori-domino.jpg?w=394&h=264


Konsep dasar pada model ini adalah:
  1. Accident adalah sebagai suatu hasil dari serangkaian kejadian yang berurutan. Accident tidak terjadi dengan sendirinya.
  2. Penyebab-penyebabnya adalah faktor manusia dan faktor fisik.
  3. Accident tergantung kepada lingkungan fisik kerja, dan lingkungan sosial kerja.
  4. Accident terjadi karena kesalahan manusia.

Beberapa decade setelahnya, Frank E. Bird dan Robert G. Loftus mengembangkan teori domino. Teori yang dikemukakan Frank E. Bird dan Robert G. Loftus pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari yang ditemukan H.W. Heinrich. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus menggambarkan cara berfikir modern terjadinya kecelakaan/banyak dipergunakan sebagai landasan berfikir untuk pencegahan terjadinya kecelakaan. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus sebagai pakar ilmu keselamatan mengemukakan teori penyebab kecelakaan berdasarkan berdasarkan urutan sebagai berikut :

1. Manajemen. Kurangnya pengawasan terutama dalam fungsi managerial, seperti :
  • Perencanaan
  • Organisasi
  • Pimpinan
  • Pengawasan/Controlling

2. Sebab-sebab utama
  • Human factor (Faktor manusia)
    · Pengetahuan kurang
    · Motivasi kurang
    · Keterampilan kurang
    · Problem/stress fisik atau mental
    · Kemampuan yang tidak cukup secara fisik dan mental
  • Job factor (Faktor pekerjaan):
    · Standar mutu pekerjaan yang tidak memadai
    · Desaign dan maintenance yang tidak baik
    · Pemakaian yang tidak normal dan lain-lain

3. Penyebab langsung. 
   
Pada kartu domino bila dasarnya penyebab langsung dengan gejala ini, maka kartu domino akan jatuh terjadi efek kecelakaan. Yang tergolong dalam penyebab langsung adalah:
  • Tindakan yang tidak aman
  • Keadaan kerja yang tidak aman

4. Incident (peristiwa)

Terjadinya kontak dengan sumber energi (energi kinetik, elektrik, akustik, panas, radiasi, kimia dan lain-lain) yang melebihi nilai ambang batas kemampuan badan atau struktur. Misalnya beban berlebih, kontak sumber energi berbahaya.


5. Loss (kerugian)

Kerugian ini dapat berupa kehilangan nyawa manusia (fatality), kesakitan (injury), harta benda, proses produksi dan image perusahaan. Biaya yang ditanggung dari kejadian kecelakaan seperti fenomena gunung es.

Bird and Loftus Domino Theory


Pada dasarnya kunci dari model kecelakaan masih sama, yaitu adanya unsafe act dan unsafe condition. Akan tetapi, mereka mulai melihat penyebab kecelakaan dari manajemen, yaitu perencanaan, organisasi, pimpinan, pengawasan/controlling serta sejauh mana manajemen mampu mencegah terjadinya kecelakaan.

Untuk Contoh studi kasus kecelakaan kerja dan cara investigasi kecelakaan menggunakan model dan teori Bird and Loftus ini dapat di klik disini.

Sedangkan untuk investigasi menggunakan dasar teori/model dari Surry Models dan Energy Damage Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan di share di sosial media Anda, dan tinggalkan komentar apabila ada yang ingin ditanyakan.


Salam,





Referensi:

[1]Mark A. Friend and James P. Kohn, Fundamental of Occupational Health and Safety, Government Institutes, 2010, page 85.

Kecelakaan Kerja dan Tujuan Investigasi Kecelakaan Kerja



Definisi kecelakaan kerja yaitu sebagai suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkontrol yang disebabkan oleh manusia, faktor situasi atau lingkungan atau merupakan kombinasi dari faktor-faktor tersebut, dimana kejadian ini dapat mengganggu proses kerja serta berpeluang mengakibatkan cidera, penyakit, kematian, kerusakan harta benda atau kejadian lain yang tidak diharapkan. Jadi kecelakaan kerja dapat terjadi melibatkan berbagai faktor, tidak hanya melibatkan orang-orang yang berada di lokasi kejadian.

Source: http://www.solidaritas.net/trauma-kecelakaan-kerja-buruh-mengundurkan-diri/


Seperti yang disebutkan dalam definisi diatas bahwa kecelakaan disebabkan oleh berbagai faktor penyebab (multi causal). Maka, untuk mengetahui berbagai faktor penyebab tersebut dibutuhkan suatu cara untuk mencari fakta-fakta pendukung yang berkaitan dengan kecelakaan. Cara yang selama ini telah banyak digunakan untuk menyelidiki kecelakaan kerja adalah investigasi kecelakaan kerja. Tujuan dilakukan investigasi kecelakaan kerja adalah untuk mencari tahu penyebab-penyebab kejadian dan mengembangkan langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi kecelakaan serta mengembangkan upaya untuk mengendalikan risiko agar kecelakaan serupa tidak terulang kembali.

Kecelakaan kerja tidak terjadi dengan sendirinya tetapi terdapat serangkaian peristiwa sebelumnya yang mendahului terjadinya kecelakaan tersebut. Terdapat banyak model yang dapat menjelaskan tentang penyebab terjadinya kecelakaan yang dikemukakan oleh para ahli. Setidaknya terdapat tiga model yang dapat digunakan untuk membantu pelaksanakan investigasi kecelakaan kerja. Adapun ketiga model tersebut adalah:

  1. Bird and Loftus Model
    Dalam teori Domini menggambarkan kecelakaan sebagai rangkaian peristiwa atau faktor penyebab yang dapat diprediksi. Terdapat tiga rangkaian peristiwa, yaitu fase pra kontak, fase kontak, dan fase post kontak. Teori ini dikemukaan oleh Heinrich pada tahun 1931 kemudian dikembangkan oleh Frank E. Bird dan Robert G. Loftus dengan menambahkan fator manajemen dalam penyebab kecelakaan.
       
  2. Dikembangkan oleh Jean Surry pada tahun 1969. Model ini berfokus pada interaksi anatara manusia dengan lingkungan. Kecelakaan digambarkan oleh serangkaian pertanyaan, membentuk sebuah hirarki berurutan tingkat. Jawaban dari pertanyaan tersebut menentukan terjadinya kecelakaan. Intervensi pencegahan kecelakaan dilakukan pada setiap tahapan tersebut
        
  3. Dikeluarkan oleh Derek Viner pada tahun 1991. Dalam model ini, bahaya dianggap sebagai energi walaupun dalam keadaan diam. Kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh benturan dua energi atau lebih dimana salah satu dari energi tersebut



Teori atau model accident sangat kompleks, dan yang diterangkan diatas hanyalah sebagiannya saja sekedar agar bisa menjelaskan bahwa accident dapat dicegah secara sistematik, dan metodologis.

Pemahaman terhadap accident model dengan baik akan sangat membantu meningkatkan cara pencegahan accident, namun perlu ditekankan bahwa perlu pula upaya pencegahan kecelakaan terhadap berbagai faktor penyebab.

Tidak ada teori yang lebih baik dari yang lainnya. Masing-masing teori mempunyai sudut pandang yang berbeda. Pengetahuan dan pemahaman yang baik pada semua teori akan memberikan wawasan yang lengkap kepada kita yang berkonsentrasi terhadap segala aspek accident atau safety.

Pemilihan model penyebab kecelakaan disesuaikan dengan tujuan dari investigasi, dan hal apa ingin diketahui dari kecelakaan tersebut.





Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media Anda dan tinggalkan komentar bila ada pertanyaan.


Salam,

Rekomendasi Artikel Lain Untuk Anda: