Showing posts with label Studi Kasus Kecelakaan. Show all posts
Showing posts with label Studi Kasus Kecelakaan. Show all posts

Monday, April 2, 2018

Contoh Kasus Kecelakaan Kerja - Video Kebocoran Pipa Minyak di Teluk Balikpapan


Kecelakaan kerja ibaratnya seperti gunung es di lautan. Sehingga muncullah teori yang bernama the iceberg theory. Teori ini menjelaskan biaya-biaya dan kerugian lain secara tidak langsung yang dimana ternyata jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan biaya langsung yang harus dikeluarkan perusahaan untuk pekerja yang mengalami kecelakaan kerja.


Ilustrasi Iceberg Theory


Jadi, walaupun secara kasat mata tidak ada pekerja yang meninggal atau cacat, namun ada akibat dari kecelakaan kerja ini yang jauh lebih besar yang harus di tanggung perusahaan bahkan orang-orang yang berada disekitar area perusahaan, seperti: biaya perbaikan dan pergantian peralatan serta area kerja, jatuhnya image perusahaan sehingga investor menarik dana dari  perusahaan, segala bentuk ganti rugi yang harus di tanggung apabila kecelakaan melibatkan penduduk sekitar ataupun melibatkan lingkungan sekitar yang terkena cemaran atau dampak kecelakaan lainnya. Selain itu, akibat minimal yang akan dirasakan perusahaan saat terjadi kecelakaan kerja adalah terganggunya proses produksi, dimana ketika terjadi kecelakaan kerja, proses produksi harus dihentikan sementara, pekerja yang seharusnya memegang kendali pada suatu alat harus henti kerja sementara (hilangnya hari kerja), sehingga hal ini membuat perusahaan tidak menghasilkan produk apapun dalam waktu berjam-jam atau berhari-hari atau bahkan lebih dari pada itu.

Tumpahan Minyak yang Mencemari Laut Teluk Balikpapan


Seperti kasus kebocoran pipa pendistribusian minyak mentah, dimana minyak langsung menyebar mencemari lautan Teluk Balik Papan April 2018. Hal ini jelas Anda tau sendiri apa akibat buruknya kecelakaan kerja seperti ini buat lingkungan dan para penduduk disekitar wilayah ini, bukan?

Serta butuh berapa tahun lamanya agar laut dapat bersih kembali?..
Berapa biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk ganti rugi?..


Video Kecelakaan Kerja Kebocoran Tangker




Belum lagi para warga sekitar tidak diizinkan menggunakan air hujan karena air hujan juga telah terkontaminasi bahan beracun berbahaya (B3) ini.

Source: Bali Pos


Nah jadi jelas, apapun bentuk kecelakaan kerja nya, walaupun tidak menelan korban nyawa sekalipun, namun kecelakaan kerja tetap berdampak besar terhadap perusahaan yang mengalaminya serta lingkungan dan orang-orang lain yang ada di sekitarnya.

Masih berfikir K3 dalam perusahaan itu tidak penting?..


Semoga Bermanfaat,

Salam,



Sunday, April 1, 2018

Contoh Studi Kasus dan Aplikasi Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Energy Damage Model



Setelah sebelumnya kita sudah membahas mengenai Energy Damage Model yang dikemukakan oleh Viner, maka selanjutnya kita akan melihat bagimana aplikasi penggunaannya beserta contoh studi kasusnya.


Aplikasi Energy Damage Model


Energi listrik dapat digunakan untuk mengoperasikan dan menggerakkan komponen mekanik mesin. Selain bahaya tertentu yang terkait dengan listrik, energi listrik dapat diubah menjadi berbagai jenis energi, masing-masing mewakili berbagai jenis bahaya. Biasanya, bahaya yang paling mudah diidentifikasi adalah mereka yang berhubungan dengan energi kinetik dari komponen bergerak. Berbagai variasi bentuk dan ukuran operasi mesin komponen dalam gerakan linear atau rotasi memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan kepada orang-orang. Secara umum, rekognisi jenis bahaya yang sederhana, seperti gerakan komponen sering terlihat. Selain itu, seseorang mungkin akan mengalami kecelakaan oleh komponen mesin stasioner, misalnya tepi yang tajam dari mesin dapat menyebabkan lecet jika kontak dibuat oleh orang yang bergerak (melalui energi kinetik mereka sendiri).


Energi listrik dapat diubah menjadi bentuk energi lain selain energi kinetik. Contohnya antara lain, dapat diubah menjadi energi potensial, seperti tekanan yang disimpan gas atau cairan yang tersimpan dalam pneumatik dan sistem hidrolik, atau dengan energi yang tersimpan dalam komponen mesin atau energi potensial gravitasi, seperti ram yang ditahan atas dies dalam mesin press.


Rekognisi bahaya yang berhubungan dengan energi potensial tersebut lebih sulit karena bahaya mungkin tidak mudah terlihat. Dalam kebanyakan kasus, butuh keahlian tehnikal yang tinggi dan pemahaman yang lebih besar dari desain mesin spesifik untuk mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan energi yang tersimpan.



Studi Kasus


PT. X adalah cabang dari perusahaan multinasional yang memproduksi sepatu basket, sepatu bola, sepatu multifungsi dan sepatu anak-anak. Pemakaian mesin alat kerja dan mekanisme dalam industri dapat menimbulkan kebisingan di tempat kerja.




Source: https://www.kerjausaha.com/2015/04/ini-ancaman-dan-tantangan-bisnis-sepatu.html


Intensitas bising lingkungan tempat kerja diatas 85 dB dtemukan di bagian sewing, assembling, pendengaran akibat bising pada tenaga kerja yang terpajan bising diatas 85 dB sebesar 11,7%.


1. Penyebab Kecelakaan Berdasarkan Energy Damage Model (Viner, 1991)


Sesuai dengan konsep the damaging energy, bahwa kecelakaan bermula dari sumber energi yang mengenai penerima melebihi ambang batas kemampuan penerima. Dalam hal ini bising yang termasuk sebagai energi akustik. Tanpa disadari ternyata ada beberapa mesin yang memiliki intensitas kebisingan diatas 85dB yang menyebabkan gangguang pendengaran pada pekerja.


2. Upaya Pencegahan Berdasarkan Energy Damage Model (Viner, 1991)


Sebagai pencegahan, upaya atau pendekatan yang dapat digunakan sesuai dengan konsep energi adalah dengan melakukan pencegahan pada tiga titik sumber terjadinya kecelakaan, yaitu:

  • Sumber bahaya
    Yang menjadi sumber bahaya adalah mesin. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan mengganti mesin dengan yang lebih rendah tingkat kebisingannya atau menggunakan peredam suara pada mesin.
  • Sepanjang aliran energi
    Pengendaliannya dapat dilakukan dengan jalan memindahkan area kerja, memasang dinding kedap suara atau mengatur jarak antara mesin dengan pekerja.
  • Pendekatan pada penerima
    Dilakukan dengan menggunakan APD pada pekerja.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media dan tinggalkan komentar Anda jika ada yang ingin ditanyakan.


Salam,
Anak KaTiga

Contoh Studi Kasus - Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - The Surry Model



Setelah sebelumnya kita menganalisa cara kerja investigasi kecelakaan berdasarkan model yang dikemukakan oleh Jean Surry, maka disini kita dapat melihat penggunaannya dalam sebuah studi kasus.

Deskripsi dan Kronologi Kecelakaan

Di sebuah perusahaan X terdapat aktivitas menyambung pipa seberat 63 kg. Saat sedang menyambung pipa, korban mencoba memasukkan stand pipa di tengah pipa yang tersambung secara horizontal tersebut. Korban memasukkan stand dengan posisi miring sementara pipa sudah ditopang dengan dua stand lain pada ujungnya. Saat kedua tangannya memegang pipa, tiba-tiba stand bergerak tidak terkendali dan menjadi tegak lurus. Kemudian tangan kiri korban terjepit sedangkan tangan kanannya terluka. 

(Klik gambar untuk memperbesar)


Siklus Pertama (Danger Buildup
  1. Perception Pekerja  → Warning of danger buildupNo
    Maka terjadi adanya penyimpangan pengolahan informasi karena tidak mampu mengidentifikasi bahaya dan risiko → sehingga pekerja dekat dengan bahaya (risiko besar)
      
  2. Cognitive Process→ Perception of warningNo
    → Recognition of warningNo Perception of avoidance modeNo
    Decision to attemp to avoidNo
      
  3. Phisiological ResponseAbility to avoidNo 
Pada saat itu Pekerja benar-benar tengah dekat dengan sumber bahaya untuk menuju kecelakaan menurut Surry Model ini karena seluruh tanggapan dari pekerja negatif. 


Siklus Kedua (Danger Release dan Emergency Period)
  1. Perception Pekerja
    Warning of danger buildupNo
    Perception of warningNo
    Karena kedua hal diatas negatif maka → Danger Release
        
  2. Cognitive Process
    Recognition of warning → No
    → Perception of avoidance mode → No
    → Decision to atemp to avoid → No 
  3. Phisiological Response → Ability to avoid → No 
Jika cognitive process dan phisiological response juga menyatakan tidak dilakukan maka situasi ini sudah dapat dikatakan emergency period.


Pada akhirnya kecelakaan terjadi memang kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan dalam proses pengolahan informasi yang terjadi pada pekerja. Hal ini disebabkan karena saat menyambung pipa pekerja tidak menyadari akan potensi bahaya terjepit yang dia alami sehingga ia tidak melakukan pencegahan sejak awal. 

Pencegahan yang tepat jika ditinjau dengan surry model yaitu dengan membangun hazard communication pada pekerja dan adanya safety meeting serta safety warning agar pekerja mampu mengolah informasi pada otak dan pikirannya secara tepat dan benar. Hal ini akan menjauhkan Pekerja dari hazard danger build up serta hazard danger release.


Sedangkan untuk mengetahui teori/model lain yang digunakan dalam investigasi kecelakaan seperti Bird and Loftus Model dan Energy Damage Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan di share di sosial media Anda dan tinggalkan komentar apabila ada pertanyaan.


Salam,

Contoh Studi Kasus - Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Frank Bird and Loftus Model


Setelah sebelumnya kita menganalisa cara kerja investigasi kecelakaan berdasarkan model yang dikemukakan oleh Frank Bird and Loftus, maka disini kita dapat melihat penggunaannya dalam sebuah studi kasus.

Deskripsi dan Kronologi Kecelakaan 

Di sebuah perusahaan X terdapat aktivitas menyambung pipa seberat 63 kg. Saat sedang menyambung pipa, korban mencoba memasukkan stand pipa di tengah pipa yang tersambung secara horizontal tersebut. Korban memasukkan stand dengan posisi miring sementara pipa sudah ditopang dengan dua stand lain pada ujungnya. Saat kedua tangannya memegang pipa, tiba-tiba stand bergerak tidak terkendali dan menjadi tegak lurus. Kemudian tangan kiri korban terjepit sedangkan tangan kanannya terluka. 


Temuan Fakta 

a.  Korban telah bekerja sebagai operator selama 2 tahun.
b.  Medical check up terakhir pada tanggal 14 Oktober 2011
c.  Korban merupakan anggota kru untuk yang beroperasi 12-18 jam
d.  Korban mulai bekerja jam 6 sore
e.  Korban baru tidur selama 1 jam
f.  Korban mengangkat pipa sendirian
g. Tangan korban mengangkat pipa kedua dari 3 bagian yang sudah di sambung.
h. Tinggi stand pipa 13 cm.
i.  Korban menggunakan PPE yang komplit
j.  Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin.
k. Korban sudah ada di barge selama 7 hari 


(klik gambar untuk memperbesar)


1. Penyebab kecelakaan menurut Teori Domino Frank E. Bird dan Robert G. Loftus

Upaya pencegahan kecelakaan harus dimulai dengan melakukan data dan fakta. Data dan fakta tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah urutan kejadian hingga terjadinya kecelakaan. Kejadian yang menimpa operator terjadi akibat adanya energi yang melebihi nilai ambang batas yang dapat diterima sehingga menyebabkan luka pada operator. Seperti yang dikemukakan oleh teori Domino Bird and Loftus, event yang terjadi sebelum kecelakaan dan mengakibatkan terjadinya kecelakaan merupakan immediate cause, sedangkan immediate cause disebabkan oleh adanya basic cause. Investigasi tidak berhenti sampai di situ karena selanjutnya data mengenai peran manajemen dalam terjadinya kecelakaan harus diselidiki. 

Misalnya setelah diselidiki dalam kasus tersebut, kecelakaan terjadi karena banyak faktor, antara lain:
  1. Immediate cause (penyebab langsung)
    Unsafe act 
    · Mengadaptasi posisi kerja, gestur dan postur yang tidak selamat
    Dalam melakukan pekerjaannya korban memposisikan tangannya hingga ia terjepit stand dan pipa. Kemudian korban juga memasukkan stand ketika pipa telah ditopang oleh dua stand lainnya di ujung.

    · Manual handling yang tidak sesuai
    Ia mengangkat pipa tersebut sendirian sementara berat pipa mencapai 63 kg. Padahal dengan berat pipa tersebut, korban harusnya tidak mengangkat pipa itu sendirian.

      
  2. Basic cause (penyebab dasar)
    Human Factor 
    Korban sebagai pekerja dinilai kurang memiliki kesadaran dalam melakukan pekerjaannya. Ia tidak memperhatikan bahwasannya pekerjaan yang ia lakukan berisiko terhadap keselamatannya.
     
  3. Lack of management control (kurang pengawasan manajemen)

    · Insufficient risk assessment (penilaian risiko yang tidak tepat)Sebelum melakukan pekerjaan, seharusnya manajemen terlebih dahulu melakukan penilaian risiko terhadap pekerjaan tersebut. Akan tetapi dalam aktivitas tersebut, tidak ada penilaian risiko sebelumnya.

    · Inappropriate working planning (one shift work)
    Korban merupakan pekerja dengan satu shift kerja (12-18 jam) sehari. Ketika melakukan pekerjaan tersebut, ia dalam kondisi lelah. Seharusnya manajemen melakukan perubahan terhadap shift kerja agar pekerja bisa bekerja dalam kondisi fit.

      
2. Upaya pencegahan kecelakaan Teori Domino Frank E. Bird dan Robert G. Loftus
  
Jika ditemukan kesalahan manajemen dalam terjadinya kecelakaan, maka agar tidak terjadi kecelakaan berulang, pencegahan harus dilakukan dengan memperbaiki manajemen yang sudah ada. Akan tetapi, penyebab langsung dan penyebab dasar pun harus diatasi dengan segera agar kecelakaan serupa tidak terjadi lagi.
  
  
  
Semoga Bermanfaat,

Salam,



Rekomendasi Artikel Lain Untuk Anda: