Showing posts with label Safety Theory. Show all posts
Showing posts with label Safety Theory. Show all posts

Sunday, January 17, 2021

faktor Manusia dalam K3 - Teori Ramsey 1978

1. Sejarah 

Teori Ramsey dilatarbelakangi oleh masih tingginya kerugian yang ditimbulkan dari faktor manusia dan cost ekonomi dari kecelakaan atau cidera meskipun perusaahaan di Amerika dan beberapa negara lainya telah memperbaiki sistem keselamatannya (safety system). Oleh karena itulah, Ramsey mengajukan suatu model yang digunakan sebagai framework untuk menggambarkan faktor perilaku yang menyebabkan peristiwa kecelakaan.

Teori yang diajukan Ramsey bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja. National Safety Council mendefinisikan kecelakaan sebagai “any unexpected event that interupts or interferes with the orderly progress of the production activity or process”. Artinya, kecelakaan merupakan suatu peristiwa yang tidak terduga yang terjadi saat proses produksi atau saat melakukan suatu aktivitas. Pengertian tersebut menunjukan bahwa suatu kecelakaan dapat menyebabkan loss berupa injury, property damage, dan kematian.


2. Model Teori Ramsey ( 1978)

Teori Ramsey merupakan salah satu dari accident theory yang membahas bagaimana suatu kejadian kecelakaan dapat terjadi. Teori ini memaparkan faktor-faktor yang ada pada diri seseorang sehingga dapat mempengaruhi terbentuknya perilaku bekerja yang selamat atau tidak selamat (safety behavior atau unsafety behavior). Berdasarkan teori ini diketahui bahwa dalam pembentukan perilaku kerja yang aman (safety behavior) terdapat 4 tahapan yang dilalui, yaitu : 
1) Tanggapan terhadap hazard (perception of hazard)
2) Pengetahuan terhadap hazard (cognition of hazard)
3) pengambilan keputusan (decision making)
4) kemampuan menghindar (ability to avoid)

Semua tahapan diatas terjadi secara berurutan dan berkesinambungan sehingga menciptakan safety behavior. Apabila semua tahapan dilakukan dengan baik dan tidak melenceng.keluar dari alur tahapan maka safety behavior dapat dihasilkan dan menghindarkan seseorang dari kecelakaan. 


3. Proses

Tahap pertama dalam proses pembentukan safety behavior adalah tanggapan terhadap suatu bahaya (perception of hazard) yang ada di sekitar. Kemampuan seseorang dalam menanggapi bahaya yang ditemui bergantung pada kecakapan sensoris (sensory skill), kemampuan perseptual (perceptual skill), dan kesiagaan mentalnya (state of allertness). Jika ada satu kecakapan yang ia lalaikan, peluang terjadinya perilaku tidak aman yang berujung pada kecelakaan akan lebih besar. Artinya, ia tidak akan menampilkan safety behavior.

Tahap kedua adalah pengetahuan terhadap hazard (cognition of hazard), yaitu seberapa besar pengetahuan seseorang tentang suatu bahaya yang ada. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1) pengalaman (experience)
2) pelatihan (training)
3) kemampuan mental (mental ability)
4) daya ingat (memory ability).

Dari pengalaman yang dimiliki, sseseorang menjadi bertambah pengetahuannya terhadap suatu hazard sehingga diharapkan ia dapat mencegah terjadinya kecelakaan. Selain pengalaman, pelatihan juga dapat memperkaya pengetahun seseorang terhadap hazard melalui materi yang diajarkan. Kemampuan mental dan daya ingat juga berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang terhadap hazard. Jika ia memiliki daya ingat yang buruk dikhawatirkan dapat menimbulkan kecelakaan karena ia menjadi tidak tanggap lagi terhadap suatu bahaya. Apabila seseorang telah mengamati bahaya yang ada dan ia tidak mempunyai pengetahuan tentang bahaya itu atau tidak berpengalaman untuk menanggulangi bahaya tersebut maka safety behavior juga tidak akan muncul. Pada tahapan yang selanjutnya, tahap ketiga, diperlukannya pengambilan keputusan (decision making ). 

Decision making yang tepat untuk menghindari bahaya di tempat kerja akan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
1) pengalaman (experience)
2) pelatihan (training)
3) sikap (attitude)
4) motivasi (motivation)
5) kepribadian (personality)
6) kecendrungan menghadapi resiko (risk-taking tendency). 

Safety behavior juga tidak akan muncul apabila seseorang tidak dapat mengambil keputusan untuk menghindari bahaya dengan tepat walaupun sebelumnya telah melakukan pengamatan dan mengetahui suatu bahaya yang ada. Setelah berhasil mengambil keputusan untuk menghindari suatu bahaya, tahapan selanjutnya adalah memiliki kemampuan (ability) untuk menghindari bahaya tersebut. Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dalam pembentukan safety behavior. Sama dengan tahap-tahap sebelumnya, apabila seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menghindari bahaya walaupun tidak terjadi kesalahan dalam tahap sebelumnya maka safety behavior tetap tidak akan terbentuk. 

Kemampuan seseorang untuk menghindari suatu bahaya (ability to avoid) akan dipengaruhi oleh :
1) Ciri-ciri fisik dan kemampuan fisik (physical characteristics and abilities)
2) Kemampuan psikomotorik (psychomotor skill)
3) Proses-proses fisiologis (physiological process)

Pada akhirnya, perilaku aman akan terbentuk dan menhindarkan seseorang dari celaka. Namun, diluar 4 tahapan besar diatas, menurut model ini, ada suatu faktor yaitu faktor kesempatan (chance) yang dapat tetap menimbulkan kecelakaan meskipun seseorang telah memiliki safety behavior, dan juga sebaliknya kecelakaan tidak jadi terjadi meskipun seseorang berperilaku tidak aman (unsafe behavior).


Gambar Model Teori Ramsey


Semoga Bermanfaat,

Salam, 


Monday, April 2, 2018

Contoh Kasus Kecelakaan Kerja - Video Kebocoran Pipa Minyak di Teluk Balikpapan


Kecelakaan kerja ibaratnya seperti gunung es di lautan. Sehingga muncullah teori yang bernama the iceberg theory. Teori ini menjelaskan biaya-biaya dan kerugian lain secara tidak langsung yang dimana ternyata jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan biaya langsung yang harus dikeluarkan perusahaan untuk pekerja yang mengalami kecelakaan kerja.


Ilustrasi Iceberg Theory


Jadi, walaupun secara kasat mata tidak ada pekerja yang meninggal atau cacat, namun ada akibat dari kecelakaan kerja ini yang jauh lebih besar yang harus di tanggung perusahaan bahkan orang-orang yang berada disekitar area perusahaan, seperti: biaya perbaikan dan pergantian peralatan serta area kerja, jatuhnya image perusahaan sehingga investor menarik dana dari  perusahaan, segala bentuk ganti rugi yang harus di tanggung apabila kecelakaan melibatkan penduduk sekitar ataupun melibatkan lingkungan sekitar yang terkena cemaran atau dampak kecelakaan lainnya. Selain itu, akibat minimal yang akan dirasakan perusahaan saat terjadi kecelakaan kerja adalah terganggunya proses produksi, dimana ketika terjadi kecelakaan kerja, proses produksi harus dihentikan sementara, pekerja yang seharusnya memegang kendali pada suatu alat harus henti kerja sementara (hilangnya hari kerja), sehingga hal ini membuat perusahaan tidak menghasilkan produk apapun dalam waktu berjam-jam atau berhari-hari atau bahkan lebih dari pada itu.

Tumpahan Minyak yang Mencemari Laut Teluk Balikpapan


Seperti kasus kebocoran pipa pendistribusian minyak mentah, dimana minyak langsung menyebar mencemari lautan Teluk Balik Papan April 2018. Hal ini jelas Anda tau sendiri apa akibat buruknya kecelakaan kerja seperti ini buat lingkungan dan para penduduk disekitar wilayah ini, bukan?

Serta butuh berapa tahun lamanya agar laut dapat bersih kembali?..
Berapa biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk ganti rugi?..


Video Kecelakaan Kerja Kebocoran Tangker




Belum lagi para warga sekitar tidak diizinkan menggunakan air hujan karena air hujan juga telah terkontaminasi bahan beracun berbahaya (B3) ini.

Source: Bali Pos


Nah jadi jelas, apapun bentuk kecelakaan kerja nya, walaupun tidak menelan korban nyawa sekalipun, namun kecelakaan kerja tetap berdampak besar terhadap perusahaan yang mengalaminya serta lingkungan dan orang-orang lain yang ada di sekitarnya.

Masih berfikir K3 dalam perusahaan itu tidak penting?..


Semoga Bermanfaat,

Salam,



Sunday, April 1, 2018

Contoh Studi Kasus dan Aplikasi Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Energy Damage Model



Setelah sebelumnya kita sudah membahas mengenai Energy Damage Model yang dikemukakan oleh Viner, maka selanjutnya kita akan melihat bagimana aplikasi penggunaannya beserta contoh studi kasusnya.


Aplikasi Energy Damage Model


Energi listrik dapat digunakan untuk mengoperasikan dan menggerakkan komponen mekanik mesin. Selain bahaya tertentu yang terkait dengan listrik, energi listrik dapat diubah menjadi berbagai jenis energi, masing-masing mewakili berbagai jenis bahaya. Biasanya, bahaya yang paling mudah diidentifikasi adalah mereka yang berhubungan dengan energi kinetik dari komponen bergerak. Berbagai variasi bentuk dan ukuran operasi mesin komponen dalam gerakan linear atau rotasi memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan kepada orang-orang. Secara umum, rekognisi jenis bahaya yang sederhana, seperti gerakan komponen sering terlihat. Selain itu, seseorang mungkin akan mengalami kecelakaan oleh komponen mesin stasioner, misalnya tepi yang tajam dari mesin dapat menyebabkan lecet jika kontak dibuat oleh orang yang bergerak (melalui energi kinetik mereka sendiri).


Energi listrik dapat diubah menjadi bentuk energi lain selain energi kinetik. Contohnya antara lain, dapat diubah menjadi energi potensial, seperti tekanan yang disimpan gas atau cairan yang tersimpan dalam pneumatik dan sistem hidrolik, atau dengan energi yang tersimpan dalam komponen mesin atau energi potensial gravitasi, seperti ram yang ditahan atas dies dalam mesin press.


Rekognisi bahaya yang berhubungan dengan energi potensial tersebut lebih sulit karena bahaya mungkin tidak mudah terlihat. Dalam kebanyakan kasus, butuh keahlian tehnikal yang tinggi dan pemahaman yang lebih besar dari desain mesin spesifik untuk mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan energi yang tersimpan.



Studi Kasus


PT. X adalah cabang dari perusahaan multinasional yang memproduksi sepatu basket, sepatu bola, sepatu multifungsi dan sepatu anak-anak. Pemakaian mesin alat kerja dan mekanisme dalam industri dapat menimbulkan kebisingan di tempat kerja.




Source: https://www.kerjausaha.com/2015/04/ini-ancaman-dan-tantangan-bisnis-sepatu.html


Intensitas bising lingkungan tempat kerja diatas 85 dB dtemukan di bagian sewing, assembling, pendengaran akibat bising pada tenaga kerja yang terpajan bising diatas 85 dB sebesar 11,7%.


1. Penyebab Kecelakaan Berdasarkan Energy Damage Model (Viner, 1991)


Sesuai dengan konsep the damaging energy, bahwa kecelakaan bermula dari sumber energi yang mengenai penerima melebihi ambang batas kemampuan penerima. Dalam hal ini bising yang termasuk sebagai energi akustik. Tanpa disadari ternyata ada beberapa mesin yang memiliki intensitas kebisingan diatas 85dB yang menyebabkan gangguang pendengaran pada pekerja.


2. Upaya Pencegahan Berdasarkan Energy Damage Model (Viner, 1991)


Sebagai pencegahan, upaya atau pendekatan yang dapat digunakan sesuai dengan konsep energi adalah dengan melakukan pencegahan pada tiga titik sumber terjadinya kecelakaan, yaitu:

  • Sumber bahaya
    Yang menjadi sumber bahaya adalah mesin. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan mengganti mesin dengan yang lebih rendah tingkat kebisingannya atau menggunakan peredam suara pada mesin.
  • Sepanjang aliran energi
    Pengendaliannya dapat dilakukan dengan jalan memindahkan area kerja, memasang dinding kedap suara atau mengatur jarak antara mesin dengan pekerja.
  • Pendekatan pada penerima
    Dilakukan dengan menggunakan APD pada pekerja.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media dan tinggalkan komentar Anda jika ada yang ingin ditanyakan.


Salam,
Anak KaTiga

Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Energy Damage Model



Energy Damage Model diperkenalkan oleh Derek Viner (1991) yang merupakan pendekatan yang fokus pada kegiatan identifikasi berbagai jenis potensi bahaya dalam bentuk sumber energi di tempat kerja yang kemudian mengontrol bahaya-bahaya tersebut dengan cara merancang berbagai metode yang dapat menghilangkan atau meminimalisirnya agar tidak mendatangkan masalah bagi si pekerja ataupun tempat kerja.


Di saat identifikasi belum dilakukan, potensi bahaya yang terdapat pada sumber energi tentunya belum dapat dipastikan dengan tepat. Sehingga besar kemungkinan muncul masalah dengan datangnya pasokan sumber energi dengan jumlah tak terduga yang bisa saja memiliki potensi bahaya dan tidak disadari sebelumnya. Dalam teori ini, bahaya adalah energi walaupun dalam keadaan diam.

Didasarkan pada anggapan bahwa kerusakan adalah akibat dari energi yang intensitasnya pada titik kontak dengan penerima melebihi batas ambang kerusakan yang dapat diterima (Viner dalam HaSPA, 2012). Kecelakaan yang terjadi merupakan akibat dari benturan dua energi dimana salah satu dari energi yang mengalami proses benturan tersebut kalah.





Dalam Energy Damage Model, bahaya merupakan sumber energi yang berpotensi merusak dan kecelakaan, cedera atau kerusakan sebagai hasil dari kurangnya pengendalian terhadap energi tersebut, hal ini disebut dengan hazard control mechanism. Mekanisme yang dimaksud anatara lain kontaimen (penahan), baik fisik maupun struktural, barrier, proses, dan prosedur. Space transfer mechanism merupakan sepanjang aliran energy yang terdapat diantara sumber energy dengan receiver (penerima). Permukaan terluar yang terkena dan rentan terhadap energi disebut recipient’s boundry. Jenis energi yang dapat menjadi bahaya tersebut antara lain energi akustik (bising), energi kimia yang berhubungan dengan bahan kimia yang digunakan untuk mengoperasikan dan memelihara mesin serta gas buangan (emisi), energi panas dari bahan bakar atau gesekan dan energi manusia yang dibutuhkan untuk postur, pergerakan dan pengoperasian.


Upaya Pencegahan Kecelakaan

Sebagian besar upaya pencegahan yang dilakukan pada Energy Damage Model sama dengan model dari Heinrich yang mana berfokus pada penghapusan (eliminasi) atau pengurangan (minimisasi) pada sumber bahaya untuk mengontrol terjadinya kerusakan. Dengan kata lain model yang digagas oleh Viner ini menempatkan fokus perhatian pada tahap pengendalian sebelum kejadian (pre-event) dengan mencegah penggunaan, mengurangi, memodifikasi atau dengan memisahkan sumber bahaya dari pekerja ataupun properti. Untuk itu solusi rekayasa harus dirancang untuk menutupi kekurangan yang terdapat pada kemampuan kognitif pekerja yang lemah.


Sebenarnya upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan sederhana yaitu dengan menghilangkan faktor penyebab terjadinya kecelakaan. Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak semudah seperti yang dibayangkan. Karena ini berkaitan dengan perubahan budaya dan perilaku. Banyak faktor yang menghambat, seperti kurangnya pengetahuan dan kesadaran pekerja, kurangnya sarana dan prasarana, belum adanya budaya tentang K3, komitmen dari pihak manajemen yang kurang dan lain-lain.

Oleh karena itulah banyak berkembang pendekatan-pendekatan yang membahas tentang pencegahan kecelakaan. Dalam Energy Damage Model, pencegahan kecelakaan dilakukan dengan berdasar pada pendekatan energi. Sesuai dengan konsep energi, bahwa kecelakaan bermula dari sumber energi. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan kecelakaan dapat dilakukan pada tiga titik sumber terjadinya kecelakaan, yaitu pada sumbernya, sepanjang aliran energi dan pada penerima.
  1. Pendekatan pada sumber bahaya
    Salah satu contoh pengendalian pada sumber bahaya misalnya memakai peredam suara pada mesin, mengganti mesin dengan mesin yang lebih rendah tingkat kebisingannya.
       
  2. Pendekatan di sepanjang aliran energi.
    Pendekatan berikutnya adalah di sepanjang aliran energi. Misalnya untuk mengurangi kebisingan dengan jalan memasang dinding kedap suara atau memindahkan area kerja.
       
  3. Pendekatan pada penerima.
    Pendekatan pada penerima misalnya, untuk mengurangi kebisingan dengan menggunakan alat penutup telinga.

Untuk Aplikasi model ini dan contoh studi kasusnya dapat di klik disini.

Sedangkan untuk mengetahui teori/model lain yang digunakan dalam investigasi kecelakaan seperti Sury's model dan Bird and Loftus Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media dan tinggalkan komentar Anda jika ada yang ingin ditanyakan.


Salam,

Contoh Studi Kasus - Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - The Surry Model



Setelah sebelumnya kita menganalisa cara kerja investigasi kecelakaan berdasarkan model yang dikemukakan oleh Jean Surry, maka disini kita dapat melihat penggunaannya dalam sebuah studi kasus.

Deskripsi dan Kronologi Kecelakaan

Di sebuah perusahaan X terdapat aktivitas menyambung pipa seberat 63 kg. Saat sedang menyambung pipa, korban mencoba memasukkan stand pipa di tengah pipa yang tersambung secara horizontal tersebut. Korban memasukkan stand dengan posisi miring sementara pipa sudah ditopang dengan dua stand lain pada ujungnya. Saat kedua tangannya memegang pipa, tiba-tiba stand bergerak tidak terkendali dan menjadi tegak lurus. Kemudian tangan kiri korban terjepit sedangkan tangan kanannya terluka. 

(Klik gambar untuk memperbesar)


Siklus Pertama (Danger Buildup
  1. Perception Pekerja  → Warning of danger buildupNo
    Maka terjadi adanya penyimpangan pengolahan informasi karena tidak mampu mengidentifikasi bahaya dan risiko → sehingga pekerja dekat dengan bahaya (risiko besar)
      
  2. Cognitive Process→ Perception of warningNo
    → Recognition of warningNo Perception of avoidance modeNo
    Decision to attemp to avoidNo
      
  3. Phisiological ResponseAbility to avoidNo 
Pada saat itu Pekerja benar-benar tengah dekat dengan sumber bahaya untuk menuju kecelakaan menurut Surry Model ini karena seluruh tanggapan dari pekerja negatif. 


Siklus Kedua (Danger Release dan Emergency Period)
  1. Perception Pekerja
    Warning of danger buildupNo
    Perception of warningNo
    Karena kedua hal diatas negatif maka → Danger Release
        
  2. Cognitive Process
    Recognition of warning → No
    → Perception of avoidance mode → No
    → Decision to atemp to avoid → No 
  3. Phisiological Response → Ability to avoid → No 
Jika cognitive process dan phisiological response juga menyatakan tidak dilakukan maka situasi ini sudah dapat dikatakan emergency period.


Pada akhirnya kecelakaan terjadi memang kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan dalam proses pengolahan informasi yang terjadi pada pekerja. Hal ini disebabkan karena saat menyambung pipa pekerja tidak menyadari akan potensi bahaya terjepit yang dia alami sehingga ia tidak melakukan pencegahan sejak awal. 

Pencegahan yang tepat jika ditinjau dengan surry model yaitu dengan membangun hazard communication pada pekerja dan adanya safety meeting serta safety warning agar pekerja mampu mengolah informasi pada otak dan pikirannya secara tepat dan benar. Hal ini akan menjauhkan Pekerja dari hazard danger build up serta hazard danger release.


Sedangkan untuk mengetahui teori/model lain yang digunakan dalam investigasi kecelakaan seperti Bird and Loftus Model dan Energy Damage Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan di share di sosial media Anda dan tinggalkan komentar apabila ada pertanyaan.


Salam,

Contoh Studi Kasus - Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Frank Bird and Loftus Model


Setelah sebelumnya kita menganalisa cara kerja investigasi kecelakaan berdasarkan model yang dikemukakan oleh Frank Bird and Loftus, maka disini kita dapat melihat penggunaannya dalam sebuah studi kasus.

Deskripsi dan Kronologi Kecelakaan 

Di sebuah perusahaan X terdapat aktivitas menyambung pipa seberat 63 kg. Saat sedang menyambung pipa, korban mencoba memasukkan stand pipa di tengah pipa yang tersambung secara horizontal tersebut. Korban memasukkan stand dengan posisi miring sementara pipa sudah ditopang dengan dua stand lain pada ujungnya. Saat kedua tangannya memegang pipa, tiba-tiba stand bergerak tidak terkendali dan menjadi tegak lurus. Kemudian tangan kiri korban terjepit sedangkan tangan kanannya terluka. 


Temuan Fakta 

a.  Korban telah bekerja sebagai operator selama 2 tahun.
b.  Medical check up terakhir pada tanggal 14 Oktober 2011
c.  Korban merupakan anggota kru untuk yang beroperasi 12-18 jam
d.  Korban mulai bekerja jam 6 sore
e.  Korban baru tidur selama 1 jam
f.  Korban mengangkat pipa sendirian
g. Tangan korban mengangkat pipa kedua dari 3 bagian yang sudah di sambung.
h. Tinggi stand pipa 13 cm.
i.  Korban menggunakan PPE yang komplit
j.  Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin.
k. Korban sudah ada di barge selama 7 hari 


(klik gambar untuk memperbesar)


1. Penyebab kecelakaan menurut Teori Domino Frank E. Bird dan Robert G. Loftus

Upaya pencegahan kecelakaan harus dimulai dengan melakukan data dan fakta. Data dan fakta tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah urutan kejadian hingga terjadinya kecelakaan. Kejadian yang menimpa operator terjadi akibat adanya energi yang melebihi nilai ambang batas yang dapat diterima sehingga menyebabkan luka pada operator. Seperti yang dikemukakan oleh teori Domino Bird and Loftus, event yang terjadi sebelum kecelakaan dan mengakibatkan terjadinya kecelakaan merupakan immediate cause, sedangkan immediate cause disebabkan oleh adanya basic cause. Investigasi tidak berhenti sampai di situ karena selanjutnya data mengenai peran manajemen dalam terjadinya kecelakaan harus diselidiki. 

Misalnya setelah diselidiki dalam kasus tersebut, kecelakaan terjadi karena banyak faktor, antara lain:
  1. Immediate cause (penyebab langsung)
    Unsafe act 
    · Mengadaptasi posisi kerja, gestur dan postur yang tidak selamat
    Dalam melakukan pekerjaannya korban memposisikan tangannya hingga ia terjepit stand dan pipa. Kemudian korban juga memasukkan stand ketika pipa telah ditopang oleh dua stand lainnya di ujung.

    · Manual handling yang tidak sesuai
    Ia mengangkat pipa tersebut sendirian sementara berat pipa mencapai 63 kg. Padahal dengan berat pipa tersebut, korban harusnya tidak mengangkat pipa itu sendirian.

      
  2. Basic cause (penyebab dasar)
    Human Factor 
    Korban sebagai pekerja dinilai kurang memiliki kesadaran dalam melakukan pekerjaannya. Ia tidak memperhatikan bahwasannya pekerjaan yang ia lakukan berisiko terhadap keselamatannya.
     
  3. Lack of management control (kurang pengawasan manajemen)

    · Insufficient risk assessment (penilaian risiko yang tidak tepat)Sebelum melakukan pekerjaan, seharusnya manajemen terlebih dahulu melakukan penilaian risiko terhadap pekerjaan tersebut. Akan tetapi dalam aktivitas tersebut, tidak ada penilaian risiko sebelumnya.

    · Inappropriate working planning (one shift work)
    Korban merupakan pekerja dengan satu shift kerja (12-18 jam) sehari. Ketika melakukan pekerjaan tersebut, ia dalam kondisi lelah. Seharusnya manajemen melakukan perubahan terhadap shift kerja agar pekerja bisa bekerja dalam kondisi fit.

      
2. Upaya pencegahan kecelakaan Teori Domino Frank E. Bird dan Robert G. Loftus
  
Jika ditemukan kesalahan manajemen dalam terjadinya kecelakaan, maka agar tidak terjadi kecelakaan berulang, pencegahan harus dilakukan dengan memperbaiki manajemen yang sudah ada. Akan tetapi, penyebab langsung dan penyebab dasar pun harus diatasi dengan segera agar kecelakaan serupa tidak terjadi lagi.
  
  
  
Semoga Bermanfaat,

Salam,



Teori/Model Investigasi Kecelakaan Kerja - Frank Bird and Loftus Model

Setelah sebelumnya kita telah membahas tentang kecelakaan kerja dan tujuan investigasi kecelakaan kerja, maka disini akan dibahas model pertama yang dapat digunakan untuk membantu pelaksanakan investigasi kecelakaan kerja, yaitu Frank Bird and Loftus Model.

Pada dasarnya ada beberapa teori domino yang dapat digunakan dalam investigasi kecelakaan. Akan tetapi terdapat kesamaan dalam teori tersebut. Semua domino teori dibagi menjadi tiga fase: 
  1. Precontact phase : mengacu pada peristiwa-peristiwa atau kondisi yang mengarah ke kecelakaan 
  2. Contact phase : mengacu pada tahap di mana individu, mesin, atau fasilitas mengalami kontak dengan energy atau kekuatan yang melebihi kemampuan fisik. 
  3. Postcontact phase : mengacu pada hasil dari kecelakaan atau paparan energy, seperti cidera fisik, penyakit, downtime produksi, kerusakan peralatan dan / atau fasilitas dan hilangnya reputasi. 
Teori domino menggambarkan kecelakaan sebagai rangkaian peristiwa atau faktor penyebab yang dapat diprediksi. Setiap faktor penyebab akan mempengaruhi penyebab lain dan menyebabkan terjadinya kecelakaan. Dalam permainan domino, ketika potongan domino berbaris dan domino pertama terjatuh, maka akan menjadi rantai peristiwa yang menyababkan jatuhnya domino yang tersisa. Dengan cara yang sama, Dengan cara yang sama, kecelakaan, menurut teori domino akan terjadi kecelakaan jika urutan penyebab fase pra kontak tidak terganggu.[1]

Heinrich mengemukakan teori ini di tahun 1931. Menurut Heinrich, 88% kecelakaan terjadi karena unsafe act, 10% karena unsafe condition dan 2% karena act of God. Heinrich juga menekankan bahwasannya kecelakaan terjadi karena kesalahan manusia lebih jauh lagi karena karakteristik manusia yang terpengaruh oleh lingkungan (ancestry, environment).


Teori Domino Heinrich

Source: https://pelatihank3site.files.wordpress.com/2017/01/pelatihan-k3-teori-domino.jpg?w=394&h=264


Konsep dasar pada model ini adalah:
  1. Accident adalah sebagai suatu hasil dari serangkaian kejadian yang berurutan. Accident tidak terjadi dengan sendirinya.
  2. Penyebab-penyebabnya adalah faktor manusia dan faktor fisik.
  3. Accident tergantung kepada lingkungan fisik kerja, dan lingkungan sosial kerja.
  4. Accident terjadi karena kesalahan manusia.

Beberapa decade setelahnya, Frank E. Bird dan Robert G. Loftus mengembangkan teori domino. Teori yang dikemukakan Frank E. Bird dan Robert G. Loftus pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari yang ditemukan H.W. Heinrich. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus menggambarkan cara berfikir modern terjadinya kecelakaan/banyak dipergunakan sebagai landasan berfikir untuk pencegahan terjadinya kecelakaan. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus sebagai pakar ilmu keselamatan mengemukakan teori penyebab kecelakaan berdasarkan berdasarkan urutan sebagai berikut :

1. Manajemen. Kurangnya pengawasan terutama dalam fungsi managerial, seperti :
  • Perencanaan
  • Organisasi
  • Pimpinan
  • Pengawasan/Controlling

2. Sebab-sebab utama
  • Human factor (Faktor manusia)
    · Pengetahuan kurang
    · Motivasi kurang
    · Keterampilan kurang
    · Problem/stress fisik atau mental
    · Kemampuan yang tidak cukup secara fisik dan mental
  • Job factor (Faktor pekerjaan):
    · Standar mutu pekerjaan yang tidak memadai
    · Desaign dan maintenance yang tidak baik
    · Pemakaian yang tidak normal dan lain-lain

3. Penyebab langsung. 
   
Pada kartu domino bila dasarnya penyebab langsung dengan gejala ini, maka kartu domino akan jatuh terjadi efek kecelakaan. Yang tergolong dalam penyebab langsung adalah:
  • Tindakan yang tidak aman
  • Keadaan kerja yang tidak aman

4. Incident (peristiwa)

Terjadinya kontak dengan sumber energi (energi kinetik, elektrik, akustik, panas, radiasi, kimia dan lain-lain) yang melebihi nilai ambang batas kemampuan badan atau struktur. Misalnya beban berlebih, kontak sumber energi berbahaya.


5. Loss (kerugian)

Kerugian ini dapat berupa kehilangan nyawa manusia (fatality), kesakitan (injury), harta benda, proses produksi dan image perusahaan. Biaya yang ditanggung dari kejadian kecelakaan seperti fenomena gunung es.

Bird and Loftus Domino Theory


Pada dasarnya kunci dari model kecelakaan masih sama, yaitu adanya unsafe act dan unsafe condition. Akan tetapi, mereka mulai melihat penyebab kecelakaan dari manajemen, yaitu perencanaan, organisasi, pimpinan, pengawasan/controlling serta sejauh mana manajemen mampu mencegah terjadinya kecelakaan.

Untuk Contoh studi kasus kecelakaan kerja dan cara investigasi kecelakaan menggunakan model dan teori Bird and Loftus ini dapat di klik disini.

Sedangkan untuk investigasi menggunakan dasar teori/model dari Surry Models dan Energy Damage Model dapat di klik di masing-masing nama.



Semoga Bermanfaat,
Silahkan di share di sosial media Anda, dan tinggalkan komentar apabila ada yang ingin ditanyakan.


Salam,





Referensi:

[1]Mark A. Friend and James P. Kohn, Fundamental of Occupational Health and Safety, Government Institutes, 2010, page 85.

Kecelakaan Kerja dan Tujuan Investigasi Kecelakaan Kerja



Definisi kecelakaan kerja yaitu sebagai suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkontrol yang disebabkan oleh manusia, faktor situasi atau lingkungan atau merupakan kombinasi dari faktor-faktor tersebut, dimana kejadian ini dapat mengganggu proses kerja serta berpeluang mengakibatkan cidera, penyakit, kematian, kerusakan harta benda atau kejadian lain yang tidak diharapkan. Jadi kecelakaan kerja dapat terjadi melibatkan berbagai faktor, tidak hanya melibatkan orang-orang yang berada di lokasi kejadian.

Source: http://www.solidaritas.net/trauma-kecelakaan-kerja-buruh-mengundurkan-diri/


Seperti yang disebutkan dalam definisi diatas bahwa kecelakaan disebabkan oleh berbagai faktor penyebab (multi causal). Maka, untuk mengetahui berbagai faktor penyebab tersebut dibutuhkan suatu cara untuk mencari fakta-fakta pendukung yang berkaitan dengan kecelakaan. Cara yang selama ini telah banyak digunakan untuk menyelidiki kecelakaan kerja adalah investigasi kecelakaan kerja. Tujuan dilakukan investigasi kecelakaan kerja adalah untuk mencari tahu penyebab-penyebab kejadian dan mengembangkan langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi kecelakaan serta mengembangkan upaya untuk mengendalikan risiko agar kecelakaan serupa tidak terulang kembali.

Kecelakaan kerja tidak terjadi dengan sendirinya tetapi terdapat serangkaian peristiwa sebelumnya yang mendahului terjadinya kecelakaan tersebut. Terdapat banyak model yang dapat menjelaskan tentang penyebab terjadinya kecelakaan yang dikemukakan oleh para ahli. Setidaknya terdapat tiga model yang dapat digunakan untuk membantu pelaksanakan investigasi kecelakaan kerja. Adapun ketiga model tersebut adalah:

  1. Bird and Loftus Model
    Dalam teori Domini menggambarkan kecelakaan sebagai rangkaian peristiwa atau faktor penyebab yang dapat diprediksi. Terdapat tiga rangkaian peristiwa, yaitu fase pra kontak, fase kontak, dan fase post kontak. Teori ini dikemukaan oleh Heinrich pada tahun 1931 kemudian dikembangkan oleh Frank E. Bird dan Robert G. Loftus dengan menambahkan fator manajemen dalam penyebab kecelakaan.
       
  2. Dikembangkan oleh Jean Surry pada tahun 1969. Model ini berfokus pada interaksi anatara manusia dengan lingkungan. Kecelakaan digambarkan oleh serangkaian pertanyaan, membentuk sebuah hirarki berurutan tingkat. Jawaban dari pertanyaan tersebut menentukan terjadinya kecelakaan. Intervensi pencegahan kecelakaan dilakukan pada setiap tahapan tersebut
        
  3. Dikeluarkan oleh Derek Viner pada tahun 1991. Dalam model ini, bahaya dianggap sebagai energi walaupun dalam keadaan diam. Kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh benturan dua energi atau lebih dimana salah satu dari energi tersebut



Teori atau model accident sangat kompleks, dan yang diterangkan diatas hanyalah sebagiannya saja sekedar agar bisa menjelaskan bahwa accident dapat dicegah secara sistematik, dan metodologis.

Pemahaman terhadap accident model dengan baik akan sangat membantu meningkatkan cara pencegahan accident, namun perlu ditekankan bahwa perlu pula upaya pencegahan kecelakaan terhadap berbagai faktor penyebab.

Tidak ada teori yang lebih baik dari yang lainnya. Masing-masing teori mempunyai sudut pandang yang berbeda. Pengetahuan dan pemahaman yang baik pada semua teori akan memberikan wawasan yang lengkap kepada kita yang berkonsentrasi terhadap segala aspek accident atau safety.

Pemilihan model penyebab kecelakaan disesuaikan dengan tujuan dari investigasi, dan hal apa ingin diketahui dari kecelakaan tersebut.





Semoga Bermanfaat,
Silahkan share di sosial media Anda dan tinggalkan komentar bila ada pertanyaan.


Salam,

Wednesday, March 28, 2018

Epidemiology of Accident Theory dalam K3





Teori epidemiologi injury dikembangkan oleh John E. Gordon dan James J. Gibson. Ia menjelaskan kecelakaan dapat terjadi akibat kegagalan interaksi antara agen, host dan environtment. Host disini merupakan manusia yang memiliki karakteristik sendiri-sendiri seperti umur, keahlian, attitude, cognitive & perspective, kondisi fisik, dan sebagainya. Sedangkan agen adalah segala sesuatu berupa benda yang berada diluar tubuh manusia yang dapat berisiko menimbulkan kecelakaan, seperti pisau yang tajam yang berkemungkinan menyebabkan luka sayat. Dan Environtment merupakan kondisi lingkungan sekitar tempat kerja.

Teori epidemiologi injury ini dalam aplikasinya kemudian dikembangkan lagi oleh Dr William Haddon Jr. ia mengajukan framework untuk menggambarkan penyebab kecelakaan dan tindakan penanggulangan terkait keselamatan di jalan raya. Framework ini biasa dikenal dengan Haddon Matriks. Sehingga, matriks inilah yang digunakan untuk menilai suatu injury yang terjadi dan mengidentifikai metode pecegahan yang digunakan.



Semoga Bermanfaat,

Salam,

SHELL Model dalam K3

Jika teori- teori sebelumnya lebih menjelaskan mengenai kesalahan sistem sistem secara makro menjadi penyebab suatu kecelakaan, Dalam SHELL model ini menjelaskan mengenai individu sejatinya akan bertindak selamat karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Menurut model ini, penyebab kecelakaan disebabkan oleh beberapa faktor. Karena karakteristik yang berbeda-beda tersebut maka manusia harus dapat beradaptasi dan mencocokan dengan beberapa faktor yang berkaitan dengan pekerjaannya agar tidak terjadi kecelakaan sehingga tidak hanya manusia saja yang menjadi penyebab utama kecelakaan.
Faktor-faktor tersebut anatara lain:
  • Software ( prosedur)
  • Hardware (mesin atau alat yang digunakan)
  • Environment (lingkungan)
  • Lifeware 1(manusia)
  • Lifeware 2 (manusia)


Source: https://image.slidesharecdn.com/part3


Jadi, menurut teori ini kelima faktor tersebut harus saling melengkapi satu sama lain (match) agar tidak terjadi kecelakaan dan yang menjadi pusatnya yaitu manusia dimana terdapat adanya interaksi antara lifeware 1 dengan lifeware 2 (interaksi antara manusia dengan manusia) , lifeware1 dengan software (interaksi manusia dengan prosedur atau SOP), lifeware 1dengan hardware (interaksi manusia dengan mesin yang digunakannya), dan lifeware 1 dengan environment (interaksi manusia dengan lingkungan kerjanya). Setelah terjadi kecocokan diantara setiap faktor-faktor tersebut maka kemungkinan terjadinya kecelakaan akan lebih sedikit.


Source: https://image.slidesharecdn.com/part3

Semoga Bermanfaat,

Salam,
Anak KaTiga

Swiss Cheese Model - Teori Human Factors Keselamatan Kerja

Swiss Cheese Model ini dikembangkan oleh James Reason pertama kali pada tahun 1990. Model ini menjelaskan tentang kegagalan sistem, bahwa terjadinya kecelakaan tidak serta merta merupakan kesalahan personal namun ada faaktr lain dalam sistem. Secara gambaran umum tujuan dari model ini hampir sama dengan yang dijelaskan oleh Frank E. Bird dalam domino teorinya. Konsep dasar model ini menjelaskan bahwa kecelakaan organisasi disebabkan oleh pengambilan keputusan yang salah yang dibuat oleh Top Manajemen. Adanya kebijakan yang salah ini, kemudian ditambah dengan kekurangan line management, unsafe act yang kemudian berinteraksi dengan local event dan adanya pertahanan yang memadai, maka terjadilah kecelakaan. Dalam perkembangannya model pertahanan dengan adanya lubang lubang yang menggambarkan laten failure yang berasal dari management ini lah menjadi peluang terjadinya kecelakaan dengan adanya psycological precusor, unsafe act maupun aspek pencetus terjadinya kondisi yang tidak biasa. Kemudia perkembangan selanjutnya disadari bahwa dalam setiap proses / faktor dalam organisasi berpeluang menciptakan latent pathogens, suatu kondisi yang pada saat tertentu dapat berkontribusi dalam terjadinya suatu accident. Latent failure dapat mempengaruhi aspek lain dalam suatu organisasi, sehingga tercipta latent failure yang lain, tetapi dapat pula secara langsung mempengaruhi defence secara langsung sehingga timbul suatu accident.

Contoh kasus yang dilihat berdasarkan teori ini adalah seperti gambar ilustrasi berikut:


Source: http://images.slideplayer.com/27/9078244/slides/slide_49.jpg 

Pada perkembangan terakhir reason menggambarkan defence/ barrier seperti layaknya multiple swiss cheese. Defences ini tidak ada yang sempurna kesemuanya memiliki limitasi, kesemuanya memiliki peluang berupa active failure maupun latent condition yang tercermin sebagai holes. Seperti halnya swiss cheese, holes tersebut terkadang terbuka, terkadang melebar, terkadang menyempit bahkan terkadang berpindah dari tempat kedudukannya. Loss/ accident terjadi bila kesemua defences/ barrier memiliki besarnya holes yang mengakibatkan accident. Perubahan dari model sebelumnya :

  • Masing-masing defences/ barrier tidak spesifik, tergantung masing-masing proses, tidak dibatasi apakah berasal dari mangement, unsafe act dsb seperti pada model sebelumnya.
  • Penggunaan kata latent condition, bukan latent failure, karena kondisi bukanlah sebab terjadinya suatu kecelakaan, tetapi kondisi merupakan faktor penting bagi penyebab untuk terjadinya kecelakaan

Semoga Bermanfaat,

Salam,


Teori Domino Heinrich dan Frank E Bird

Untuk memahami bagimana dan apa alasan seseorang mau atau tidak mau berperilaku selamat dalam bekerja, ada beberapa pendekatan teori atau model yang dapat menjelaskannya. Terdapat beberpa pandangan ahli mengenai sebab-sebab individu berperilaku selamat :


A) Teori Domino Heinrich

Teori ini menyatakan bahwa kecelakaan diakibatkan oleh rantai peristiwa berurutan seperti domino jatuh dan ketika salah satu domino jatuh, memicu kecelakaan yang berikutnya. Lima faktor kecelakaan berurutan yang menyebabkan cedera:
  • Social Environment and Ancestry
  • Fault of Person
  • Unsafe Act and/or Unsafe Condition
  • Accident
  • Injury



Source: http://docplayer.net/docs-images/27/11836037/images/27-0.png


Dalam teri domino ini pencegahan kecelakaan berfokus pada penghilangkan faktor utama (the central factor), yaitu tindakan tidak aman atau bahaya, yang mendasari 98% dari semua kecelakaan. Heinrich beranggapan bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan menghilang kedua faktor, yaitu meniadakan unsafe act dan unsafe condition. Atau dengan kata lain dengan cara mengendalikan situasinya (thing problem) dan masalah manusianya (people problem). Sayangnya teori ini terlalu melimpahkan kesalahan pada manusia dan kecelakaan bisa terjadi hanya karena ada kesalahan manusia. Namun dibalik kekeurangan Heinrich dalam teorinya, Heinrich melihat adanya sejumlah faktor yang memunculkan efek domino kondisi yang menyebabkan kegiatan pekerjaan menjadi tidak aman. Teori Domino Heinrich ini juga menjadi teori ilmiah pertama yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja karena kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan.



B) Teori Domino Frank E. Bird

Teori yang dipaparkan oleh Frank E. Bird lahir akibat dari modifikasi teori Heinrich, secara umum pendekatan teoi ini hampir sama dengan teori domino sebelumnya, Fokus utama teori ini dikemukakan bahwa kecelakaan terjadi karena adanya kesalahan pada manajemen sistem. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus mengembangkan model tersebut sebagai berikut: 
  • Lack of Control dan Management, yaitu kelemahan fungsi-fungsi management Leadership, pengawasan, standard kerja, standard performance, correction error.
  • Basic Concepts dan Origins, yaitu pengetahuan dari pekerja, skill, motivation, physical or capability work problems. 
  • Immediate Causes dan Sympton, yaitu unsafe acts dan unsafe condition
  • Accident dan Contact, yaitu kecelakaan yang terjadi. 
  • Injury Damage dan Loss, yaitu cidera/kecelakaan dan kehilangan property.

Source: http://handikamaulana.blogspot.co.id/2015/05/teori-kecelakaan-kerja.html


Teori Domino Frank E. Bird sudah lebih kompleks menjelaskan bahwa perilaku manusia ini sebagai subsistem kerja. Kecelakaan terjadi karena ada  ‘sesuatu’ yang salah pada sistem (lack of control). Frank E.Bird dalam teorinya juga tidak serta merta menyalahkan manusia sebagai faktor utama dalam suatu kejadian kecelakaan karena menurut beliau pada dasarny tidak ada seorang pekerja atau manusia yang menginginkan adaanya kecelakaan, dalam hal ini beliau sangat memperhatikan sunsistem lain. Teori ini melihat penyebab kecelakaan ini secara makro, sehingga dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi akar masalah itu secara sistemik sehingga dapat menghasilkan peningkatan secar berkelanjutan.



Semoga Bermanfaat,

Salam,
Anak KaTiga



Rekomendasi Artikel Lain Untuk Anda: